Example 728x250
Ilmu TafsirUshul Fiqih

Apakah Amar Harus di Lakukan Berulang-Ulang?

132
×

Apakah Amar Harus di Lakukan Berulang-Ulang?

Share this article
Example 468x60
Apakah Amar Harus di Lakukan Berulang-Ulang?

Apakah amar harus di lakukan berulang-ulang atau tidak? Menurut Jumhur Ulama’, Pertama, amar yang muthlaq yang tidak memiliki qorinah (tanda) untuk mengulangi, maka amar ini tidak wajib laksanakan dengan berulang-ulang, cukup di lakukan sekali saja.

Kedua, amar yang harus di laksanakan secara berulang-ulang yaitu amar yang memiliki qorinah (tanda) harus di lakukan secara berulang-ulang. Qorinah-qorinah tersebut di antaranya:

1. Amar yang memiliki syarat yang menjadi ‘illat dalam terjadi amar (perintah), maka amar ini harus di lakukan berulang-ulang sesuai syarat tersebut ada. Misalnya:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا

Artinya:  Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci). (QS. Al-Maidah: 6)

Perintah tayamum dalam ayat tersebut di gantungkan dengan syarat sakit dan menemukan air, maka tayamum itu boleh di lakukan jika seseorang itu sakit atau tidak mendapati air.

Baca juga: 

2. Amar yang di sifati dengan sifat yang menjadi ‘illat sesuatu yang di perintahkan. Maka amar ini juga wajib di lakukan berulang-ulang jika sifat tersebut terjadi kembali. Misalnya:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ

Artinya: ”Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir”. (QS. Al-Isra’: 78)

Perintah melaksanakan shalat dzuhur itu di sifati dengan tergelincirnya matahari, maka shalat dzuhur harus di lakukan secara berulang-ulang ketika matahari tergelincir.

3. Amar yang berhubungan dengan sebab yang menjadi ‘illat sesuatu yang di perintahkan. Maka amar wajib di lakukan berulang-ulang sesuai sebab tersebut wujud. Misalnya:

اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ

Artinya: “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali”. (QS. An-Nur: 2)

Perintah mencambuk 100 kali itu terjadi karena zina. Zina ini yang di sebut sebab terjadi perintah mencambuk. Jadi perintah mencambuk itu harus di lakukan sebab tersebut wujud.

Refrensi:

1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Mustashfa. Bairut Libanon: Dar al-Kutub al-’Ilmiah, 2010.
2. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.
3. Ghayatu Al-Wushul Fi Syarhi Lubbu Al-Ushul, n.d.
Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.