Example 728x250
Keislaman

Dalil – Dalil Qiyas Dalam Al-Quran, Hadis dan Aqli

210
×

Dalil – Dalil Qiyas Dalam Al-Quran, Hadis dan Aqli

Share this article
Dalil - Dalil Qiyas Dari Al-Quran, Hadis dan Aqli
Dalil - Dalil Qiyas Dari Al-Quran, Hadis dan Aqli
Example 468x60

Al-Quran Media – Dalil – dalil qiyas adalah dalil-dalil  yang diungkapkan oleh Al-Quran, Hadits dan logika sebagai justifikasi penetapan  qiyas sebagai sumber hukum Islam. Dalil-dalil ini penting untuk diketahui  untuk memperkuat bahwa qiyas adalah metode penetapan hukum Islam yang sah. Dalil-dalil ini banyak sekali di dalam Alquran Hadis beserta dalil-dalil aqlinya. Berikut ini uraiannya:

Dalil – Dalil Qiyas

Menurut qaul shahih qiyas sudah di lakukan oleh banyak sahabat misalnya penunjukan khalifah Sayyidina Abu Bakar adalah di qiyaskan dengan Abu Bakar yang menjadi pengganti Imam shalat Rasulullah Saw.

A. Dalil Qiyas dalam Al-Quran
1. QS.  Al-Hasyr ayat ke 2:

 فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ

Artinya:  Maka ambillah pelajaran (kejadian itu), wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa qiyas dapat di jadikan hujah dalam permasalahan hukum-hukum Syari’at amaliyah.  Menurutnya qiyas ini menempati urutan keempat dalam sumber-sumber syari’at hukum Islam setelah Al-Qur’an , hadis dan ijma’. Artinya dalam menghukumi sesuatu seseorang harus mencari dari Al-Qur’an , hadis dan ijma’ dan qiyas, namun qiyas baru dapat di gunakan ketika hukum sudah tidak di temukan dalam Al-Qur’an , hadis dan Ijma’.

2. QS. An-Nisa’ ayat 5

Mayoritas ulama’ menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an , hadis, fatwa dan perbuatan sahabat. Dalil-dalil Al-Qur’an  antara lain  yaitu pertama yaitu QS. An-Nisa’ ayat 59:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 59)

Menurut qaul shahih kata fa’tabiru di atas  mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Untuk konteks ayat di atas adalah mengqiyaskan Bani Nadhir dengan orang-orang kafir Ahlul kitab.

Dalam ayat ini di jelaskan bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab permasalahannya. Ayat ini di jadikan dalil qiyas oleh para ulama’ karena mengikuti qiyas sama dengan Al-Qur’an  dan hadis karena hukum Al-Qur’an  dan hadis sama-sama memiliki ‘illat yang sama dengan qiyas bahkan ‘illat qiyas lebih tinggi.

3. QS. Yasin ayat 79

Dalil dari Al-Qur’an  berikutnya ialah QS. Yasin ayat 79:

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali.

Ayat ini adalah sebagai jawaban dari ayat sebelumnya (Siapakah yang dapat menghidupkan tulang -belulang yang hancur luluh QS. Yasin: 78).

Dalam menjawab pertanyaan orang yang ingkar kepada hari kebangkitan bukannya Allah  langsung menjawab secara langsung tetapi Allah menjawab dengan mengqiyaskan terhadap yang menghidupkan manusia sebelumnya.

Dengan demikian maka dapat di pahami bahwa  Allah swt. juga menggunakan qiyas oleh karenanya ulama’ berpendapat bahwa qiyas juga dapat di jadikan sebagai hukum Syari’at.

Memang jika kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an  secara detail, maka kita akan menemukan banyak ayat-ayat yang bersifat umum dan tidak detail dalam menjawab persoalan-persoalan di masyarakat, namun jika orangnya teliti maka ia akan menemukan bahwa persoalannya sudah terjawab dalam ayat yang ada dalam Al-Qur’an .

Misalnya memukul, menghina  dan mencaci orang tua, hal ini tidak ayat yang menjelaskan hukumnya tetapi persoalan ini sudah terakomodir dalam ayat larang berkata  “ah” dalam QS. Al-Isra’, 17: 23.

B. Dalil Qiyas dalam Hadis

Sedangkan dalil qiyas yang berasal dari hadis ialah hadis Rasulullah Saw. yang membenarkan ijtihadnya Muadz bin Jabal.

Berikut ini hadisnya:

عن معاذ بن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعثه إلى اليمن قال: كيف تقضي إذا عُرض لك قضاءٌ؟ قال: أقضي بكتاب الله. قال: فإن لم تجد في كتاب الله؟ قال: فبسنة رسول الله. قال: فإن لم تجد في سنة رسول الله؟ قال: أجتهد رأيي ولا آلو. قال: فضرب رسول الله على صدره وقال: الحمد لله وفّق رسول رسول الله لما يَرضى رسولُ الله.

Artinya: “Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, bahwa pada saat Rasulullah saw. mengutusnya ke negeri Yaman, beliau saw. bertanya: “Bagaimana kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepada sebuah masalah?”. Muadz menjawab, “Saya memutuskan dengan Kitab Allah”. Nabi saw. bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukan di dalam Kitab Allah?”. Muadz menjawab, “Dengan Sunah Rasulullah saw.”. Kembali, Nabi bertanya, “Jika kamu tidak menemukan di dalam Sunah?”. Dia menjawab, “Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Kemudian, Muadz bercerita, “Rasulullah saw. menepuk dadanya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah dengan sesuatu (keputusan) yang diridai Rasulullah saw.”. (Sunan al-Darimi, 168)

Dalil qiyas yang berasal dari hadis berikutnya antara lain hadis tentang Jariyah Khats’amiyah yang bertanya kepada Rasulullah tentang ayahnya yang terkena kewajiban haji tetapi ayahnya lumpuh, lalu ia bertanya apakah ia boleh menghajikan ayahnya.

Lalu Rasulullah Saw. menjawab dengan mengqiyaskan dengan apakah di perbolehkan membayar hutang bapaknya lalu si jariyah (budak perempuan) menjawab boleh, maka menghajikan ayahnya juga di perbolehkan.

C. Dalil Aqli Qiyas

Dalil-dalil aqlinya qiyas ialah:

Pertama, nash-nash dari Al-Qur’an  dan hadis terbatas dan sudah terhenti sedangkan persoalan dan permasalahan hukum syari’at di masyarakat terus berkembang dan tidak ada habisnya.

Dengan demikian maka persoalan baru di masyarakat sudah tidak dapat di jawab dengan Al-Qur’an  dan hadis. Oleh karenanya maka di perlukan metodologi yang baru sebagai sumber-sumber hukum Syari’at.

Qiyas adalah salah satunya metode untuk menjawab persoalan dan permasalahan hukum baru di masyarakat karena qiyas dan nash Al-Qur’an  hadis memiliki persamaan obyek hukum yaitu ‘illat dari hukum. Hal ini selaras dengan kaidah:

الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

Artinya: “Hukum berputar beserta ‘illatnya (alasan), ada dan tiada.”

Kedua, ‘illat yang ada dalam qiyas sama dengan ‘illat yang ada dalam ashal (hukum dari Al-Qur’an  dan hadis). Dengan demikian maka hukum yang bersumber dari Al-Qur’an  dan hadis sama dengan hukum yang bersumber dari qiyas.

Ketiga, Qiyas dan nash Al-Qur’an  hadis memiliki maqasid (tujuan syari’at) yang sama yaitu mendatangkan  kemaslahatan dan menolak kemudaratan

Itulah penjelasan tentang  dalil qiyas semoga bermanfaat.

Baca juga:

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.