Example 728x250
Ilmu TafsirUshul Fiqih

Definisi dan Kandungan Hukum Nahi

253
×

Definisi dan Kandungan Hukum Nahi

Share this article
Example 468x60
Definisi Nahi

Kata nahi berasal dari bahasa Arab yang berarti larangan. Definisi nahi yang di buat  oleh ulama’ ushul fiqih adalah tuntutan untuk meninggalkan melakukan sesuatu yang di larang. Misalnya larangan melakukan zina, membunuh, minuman keras, judi dan lain sebagainya.

Nahi ini memiliki shighat-shighat tertentu yang memang di buat untuk menunjukkan kata larangan, misalnya shighat la taf’ul, la taf’al, la taf’il, dan shighat-shighat nahi lainnya sebagaimana penjelasan dalam ilmu sharaf. Namun tidak semua kata nahi dalam Al-Quran dan hadis menunjukkan hukum haram semua, tetapi ada juga yang tidak menunjukkan hukum haram sebagaimana penjelasan di bawah ini.

Kandungan Hukum Nahi

Kandungan hukum yang di tunjukkan nahi ada dua, yaitu:

A. Nahi Hakiki

Nahi yang hakiki atau hakikat adalah nahi yang menunjukkan hukum haram. Nahi yang menunjukkan hukum haram adalah nahi yang tidak di sertai dengan qorinah yang mengarahkan kepada hukum selain haram. Ada pula yang berpendapat nahi yang menunjukkan hukum haram adalah nahi yang di barengi dengan ancaman. Misalnya larangan zina dan minuman keras, di ancam dengan cambuk begitu juga larangan membunuh di ancam dengan di qishash.

Nahi yang menunjukkan makna haram ini adalah hukum asal dari nahi, karena tujuan utama dari ungkapan nahi meninggalkan sesuatu yang di larang.  Contoh dari nahi yang menunjukkan hukum haram ialah:

1. Ayat larangan membunuh:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ

Artinya: “Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar”. (QS. Al-An’am: 151)

2. Ayat larangan zina:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’: 32)

3. Ayat larangan khamr, judi, menyembah berhala, dan mengundi nasib:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan”. (QS. Al-Maidah: 90)

B. Nahi Majazi

Nahi majazi adalah nahi (kata larangan) dalam Al-Quran dan hadis yang tidak menunjukkan hukum haram. Nahi majazi ini harus memiliki qorinah (tanda) atau dalil yang mengarahkan kepada hukum yang di kandungnya, misalnya nahi yang memiliki kandungan hukum makruh maka nahi tersebut harus memiliki qorinah (tanda) yang mengarahkan kepada hukum makruh.

Pada dasarnya dalam kalimat nahi tidak mudah mengambil kesimpulan bahwa hukum ini haram, makruh atau mubah. Hal ini sangat sulit di lakukan di perlukan banyak dalil dan qorinah dari ayat atau hadis yang mengarahkan kepadanya. Karena pada dasarnya ayat Al-Quran dan hadis tidak berdiri dalam teks itu tetapi ayat Al-Quran dan hadis memiliki keterkaitan dengan ayat-ayat dan hadis lainya. Selain itu juga perlu memahami asbabun nuzul, asbabul wurud serta konteks dari ayat dan hadis tersebut.

Nahi majazi ini banyak sekali yang di tunjukan tetapi Wahbah Az-Zuhaili meringkasnya dalam sembilan bagian saja, sebagaimana penjelasan berikut ini:

1. Nahi yang menunjukkan hukum makruh. Nahi yang menunjukkan hukum makruh adalah nahi yang tidak di sertai dengan ancaman. Misalnya:

وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ

Artinya: Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan”. (QS. Al-Baqarah: 267)

Ayat ini melarang berinfak dengan barang yang buruk, namun larangan ini hanya memiliki kandungan hukum makruh. Misalnya lagi hadis Rasulullah SAW.:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌لَا ‌يُمْسِكَنَّ ‌أَحَدُكُمْ ‌ذَكَرَهُ ‌بِيَمِينِهِ ‌وَهُوَ يَبُولُ

Artinya: Rasulullah SAW. bersabda: Janganlah salah satu dari kalian menyentuh alat kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang buang air kecil.

Larangan menyentuh alat kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air kecil hukumnya hanya makruh saja tidak haram.

2. Nahi yang menunjukkan kandungan doa. Nahi yang memiliki kandungan doa banyak sekali dalam Al-Quran dan Hadis. Nahi yang bermakna doa ini tujuannya adalah memberi ajaran kepada Umat Islam agar melakukan doa-doa yang seperti yang ada dalam Al-Quran dan hadis. Misalnya:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهۚ

Artinya:  “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya”. (QS. Al-Baqarah: 286)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya:  “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)

3. Nahi yang menunjukkan Irsyad artinya adalah petunjuk, jadi nahi yang bermakna irsyad adalah nahi yang memberi petunjuk agar tidak melakukan hal-hal yang di sebutkan dalam nahi tersebut. Misalnya:

لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ ۚ

Artinya: “ Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu”. (QS. Al-Maidah: 101)

Baca juga: 

4. Nahi yang menunjukkan Tahqir maknanya adalah menghina atau merendahkan. Misalnya:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِه اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Artinya: “Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia”. (QS. Thoha: 131)

Ayat ini menganjurkan agar tidak bertujuan kepada duniawi karena duniawi adalah hal rendah di sisi Allah.

5. Nahi yang menunjukkan ‘aqibah. ‘Aqibah artinya adalah akibat, Nahi yang menunjukkan ‘aqibah adalah nahi (larangan) yang menitik beratkan kepada akibatnya. Misalnya:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: “Janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim”. (QS. Ibrahim: 42)

6. Nahi yang menunjukkan ta’yis. Ta’yis artinya putus asa misalnya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَۗ

Artinya: “Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini”.  (QS. At-Tahrim: 7)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir di akhirat tidak lagi dapat membuat alasan atas kekafirannya. Karena mereka sudah putus asa atas rahmat Allah.

7. Nahi yang menunjukkan Tahdid adalah menakut-nakuti. Nahi yang memiliki tujuan tahdid adalah nahi yang di ungkapkan dengan tujuan menakut-nakuti atau tujuannya memberi ancaman. Misalnya ungkapan “jangan lakukan ini jika kamu tidak ingin sengsara.

8. Nahi yang menunjukkan Iltimas adalah nahi yang di ungkapan oleh orang yang sederajat. Misalnya orang berkata kepada temannya “jangan begini”.

9. Nahi yang menunjukkan Nahi yang menunjukkan makna syufqah adalah nahi yang di ungkapkan dengan tujuan belas kasih. Misalnya hadis Rasulullah SAW.:

لا تتخذوا الدواب كراسي

Artinya: “Janganlah jadikan hewan sebagai kursi”

Nahi (Larangan) Yang Hukumnya Batal dan Akadnya Rusak

Sesuatu yang di larang tidak semuanya memiliki hukum batal dan akadnya rusak, tetapi ada pula yang tidak batal dan tidak rusak tetapi hukum haram saja sebagaimana penjelasan berikut ini:

Pertama, yang di larang adalah dzatnya, misalnya zina, membunuh, minum minuman keras. Hal ini ulama’ sepakat bahwa hukumnya batal dan akadnya rusak.

Kedua, Yang di larang adalah perkara lain yang menyertai yang di larang, misalnya jual beli pada saat adzan jum’at, shalat dengan baju yang di ghasab dan wudhu’ dengan air ghasab.   Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat, kebanyakan ulama’ tidak menghukumi batal dan rusak tetapi haram saja. Sedangkan Madzhab Hambali dan Dhahiriyah menghukumi batal dan rusak.

Ketiga, yang di larang adalah sifat yang menetapkan keharaman yang di larang, misalnya hutang-piutang yang mengandung riba, puasa pada hari raya, melakukan transaksi jual beli yang belum di ketahui. Dalam hal ini hukum batal dan akadnya rusak.

Refrensi:

1. Abdul Karim Bin Namlah. Al-Muhadzab Fil Ilmi Ushulul Fiqih Al-Muqaran. Riyadh: Maktabah Ar-Rasyid, 1999.

2. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.