Example 728x250
Keislaman

Hukum Talfiq, Pengertian dan Contohnya

274
×

Hukum Talfiq, Pengertian dan Contohnya

Share this article
Example 468x60

Al-Quran Media – Talfiq adalah mencampur adukkan pendapat dari madzhab dalam satu permasalahan hukum (baik amal maupun mu’amalah) sehingga dapat mengakibatkan hukumnya batal  menurut kedua madzhab yang di campur aduk tersebut. Talfiq ini merupakan sesuatu yang masih terjadi khilaf dalam pandangan ulama’.

Pengertian Talfiq

Pengertian talfiq adalah mencampur aduk pendapat madzhab dengan madzhab lainnya di mana dalam rangkaian hukumnya di anggap tidak sah oleh kedua madzhab tersebut. Artinya talfiq adalah mengambil pendapat dari beberapa madzhab dalam satu permasahan hukum lalu mencampurnya yang menurut pandangan madzhabnya hukumnya batal.

Contoh Talfiq

Contoh talfiq misalnya dalam rukun wudhu’ ia ikut madzhab Syafi’i sehingga ia cukup mengalirkan air kepada wajah, tangan, dan kaki, tidak ikut madzhab Maliki yang mewajibkan menggosok wajah, tangan dan kaki.

Namun dalam hal-hal yang membatalkan wudhu’ ia ikut madzhab Maliki yang menghukumi tidak batal wudhu’nya ketika menyentuh lawan jenisnya sedangkan menurut Imam Syafi’i menyentuh lawan jenis hukum wudhu’nya batal. Maka talfiq seperti ini hukumnya tidak boleh.

Baca juga: 

Hukum Talfiq Menurut Ulama’

Dalam permasalahan talfiq adalah Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi hukum talfiq sebagaimana penjalsan berikut ini:

Pertama, talfiq tidak di perbolehkan secara mutlak. Alasannya karena talfiq memberi peluang bagi muqallid (orang yang taklid) untuk mengambil pendapat-pendapat yang ringan-ringan saja. Talfiq juga dapat menimbulkan tidak sahnya amal yang di lakukannya. Pendapat ini di keluarkan oleh mayoritas ulama’ madzhab. Klaim Ibnu Hajar pendapat ini adalah ijma’ dari Ulama’.

Kedua, menurut Al-‘Adawi, Ulama’ madzhab malikiyah memperbolehkan talfiq tetapi hanya dalam ruang lingkup ibadah. Menurutnya talfiq dalam permasalahan ibadah dapat di tolelir karena merupakan haqqullah.

Ketiga, menurut Malikiyah, sebagian Ulama’ Hanafiyah dan sebagian Ulama’ Hambali.  Talfiq di perbolehkan jika dalam keadaan hajat, darurot, udzur atau tidak mampu melaksanakan pendapat madzhabnya.

Keempat menurut Abdur Rahman Al-Bani. Dalam permasalahan  talfiq ia membagi dalam tiga bagian:

  1. Talfiq dalam permasalahan ibadah mahdah (murni) di perbolehkan karena ibadah tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah sehingga di perbolehkan mengambil pendapat yang ringan-ringan saja atau bahkan talfiq.
  2. ]Tidak di perbolehkan talfiq dalam ibadah yang berkaitan dengan sosial misalnya zakat. Talfiq dalam permasalahan ini tidak di perbolehkan karena ibadah ini adalah haqqul adami sehingga harus di laksanakan dengan hati-hati karena takut berakibat dapat menyia-nyiakan fakir miskin.
  3. Talfiq dalam hal-hal yang haram. Talfiq dalam permasalahan ini tidak di perbolehkan karena hal-hal yang haram harus di tinggalkan dan jika di lakukan akan memberi dampak madarot.

Itulah penjelasan talfiq semoga menambah keilmuan anda.

Refrensi:

  • Shuffah, Tim Kajian Ilmiah Ahla. Kamus Fiqih. Kediri: Purna Siswa MHM 2013, 2013.
Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.