Example 728x250
KeislamanUshul Fiqih

Ijma’ : Definisi, Contoh, Syarat, Rukun, dalil, dan Hujjahnya

768
×

Ijma’ : Definisi, Contoh, Syarat, Rukun, dalil, dan Hujjahnya

Share this article
Example 468x60
Definisi Ijma’

Ijma’ secara bahasa berarti ‘azm dan ittifaq. ‘Azm memiliki arti tekad, keputusan, resolusi, niat, rencana. Sedangkan arti ittifaq  adalah  persetujuan, kesepakatan, perjanjian, konvensi, kesesuaian,  keselarasan.

Ijma’ secara istilah banyak sekali pendapat ulama’ yang mengemukakannya, kami hanya menguraikan sebagiannya yang sekiranya dapat mewakili dari pendapat-pendapat ulama’ tersebut. Pertama, dalam kitab Jam’ul Jawami’ di jelaskan bahwa ijma’ adalah:

الاجماع هو اتفاق مجتهدي هذه الأمة في عصر من الأعصار على أي أمر كان

Artinya: Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid umat ini (Umat Rasulullah Saw) pada setiap dari beberapa masa atas hukum setiap sesuatu yang sedang terjadi.

Kedua, Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan ijma’ sebagaimana berikut ini:

الإجماع في اصطلاح الأصوليين: هو اتفاق جميع المجتهدين من المسلمين في عصر من العصور بعد وفاة الرسول – صلى الله عليه وسلم – على حكم شرعي في واقعة

Artinya: Ijma’ menurut Ahli ushul fiqih adalah kesepakatan seluruh mujtahid dari umat islam terhadap hukum-hukum persoalan yang sedang terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw. dalam setiap masanya mujtahid dari beberapa masa.

Artinya ijma’ adalah kesepakatan seluruh mujtahid pada masanya terhadap hukum-hukum syari’at pada masanya mujtahid.

Ketiga, Muhamad Musthofa Al-Zuhaili mendefinisikan ijma’ sebagaimana berikut ini:

الاجماع هو اتفاق مجتهدي عصر من أمة محمَّد – صلى الله عليه وسلم – على أمر شرعي

Artinya: Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid umat Nabi Muhammad Saw. terhadap permasalahan syari’at pada masanya.

Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa ijma’ kesepakatan seluruh mujtahid pada masanya setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Lalu ulama’ berbeda pendapat dalam obyek yang di sepakati ada yang mengatakan ijma’ hanya terjadi dalam permasalahan-permasalahan hukum syari’at saja, ada juga yang mengatakan ijma’ dapat terjadi dalam semua permasalahan.

Dari penjelasan ulama’ ini juga dapat di ketahui bahwa:

1. Ijma’ harus terjadi setelah masa Rasulullah Saw. wafat karena pada masa Rasulullah Saw. semua persoalan hukum di bersumber langsung dari Nabi Muhammad Saw.

2. Ijma’ hanya boleh di keluarkan oleh mujtahid tidak selain mujtahid.

3. Ijma’ berlaku dalam masalah ushul, furu’, lughuwi dan

Syarat-Syarat Ijma’

Syarat-syarat ijma’ jumlahnya banyak sekali sebagian ada yang di sepakati sebagian lagi masih khilaf. Muhammad Mushthofa Al-Zuhaili menumpulkan syarat-syarat  ijma’ yang paling penting sebagai mana berikut:

1. Ijma’ tidak bertentangan dengan Al-Qur’an , hadis dan ijma’ sebelumnya. Hal ini menjadi syarat karena Al-Qur’an adalah dalil Syari’at pertama, hadis dalil Syari’at kedua dan ijma’ adalah  kategori dalil qoth’i yang tidak boleh berbeda dengannya.

2. Ijma’ harus berlandasan dan berdasarkan dalil-dalil Syari’at seperti Al-Qur’an , hadis, qiyas dan lainya. Menurut Ibn Hazm tidak boleh ada ijma’ kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Hal ini mensyaratkan demikian karena obyek utama dari ijma’ adalah kesepakatan mujtahid sedangkan sumber hukum ijma’ tetap harus berdasarkan sumber-sumber hukum syari’at seperti Al-Qur’an , hadis dan qiyas.

Dalam sebuah kaidah di jelaskan bahwa mujtahid harus memenuhi dan tidak boleh keluar dari batasan-batasan syari’at yang sudah di tentukan.

3. Mujtahid pada masa itu harus lebih dari satu sehingga mereka tidak mungkin membuat kesepakatan yang untuk berbohong. Dalam syarat ini ulama’ masih khilaf, ada yang mensyaratkan ijma’ harus mencapai jumlah mutawatir, ada pula yang mensyaratkan tidak harus mencapai jumlah mutawatir.

Dalam syarat ijma’ ini memang masih belum kompatibel mengingat jika syarat ijma’ harus mencapai jumlah mutawatir maka ijma’ tidak mungkin terjadi karena mujtahidnya sangat sedikit.

Sedangkan jumlah mutawatir ada yang mensyaratkan harus berjumlah empat puluh orang dan mujtahid berjumlah empat puluh orang itu tidak pernah ada dalam sejarah.

Oleh karenanya syarat ijma’ yang paling memungkin adalah mujtahid harus lebih dari satu yang sekiranya tidak mungkin bisa berbohong.

4. Harus ada kesepakatan semua mujtahid.

5. Menurut jumhur ulama’ ijma’ hanya berlaku atas urusan dan permasalahan syari’at tidak pada lainnya. Sedangkan ulama’ lain mengatakan ijma’ dapat berlaku dalam segala urusan tidak hanya urusan syari’at-syari’at saja.

6. Masa mujtahid sebelumnya sudah habis dan mujtahidnya sudah meninggal semua. Sehingga mujtahid pada masa itu dapat membuat ijma’ baru sesuai masanya. Namun syarat ini masih khilaf.

Rukun-Rukun Ijma’

Menurut Abdul Wahab Khalaf rukun ijma’ terdapat dua, yaitu:

1. Ada Banyak Mujtahid Dalam Satu Masa

Dalam menetapkan suatu ijma’ maka mujtahid pada masa itu lebih dari satu atau lebih. Ijma’ tidak boleh di tetapkan oleh satu orang mujtahid saja.

Hal ini menjadi rukun mengingat ijma’ harus di sepakati oleh para mujtahid, jika mujtahidnya satu maka belum memenuhi rukun dari ijma’ karena yang namanya ijma’ harus terjadi kesepakatan dan kesepakatan itu tidak terjadi dalam satu orang mujtahid.

2. Ada Hukum Yang di Sepakati

Rukun ijma’ yang kedua adalah ada hukum yang di sepakati. Hukum ini yang di sepakati harus di sepakati oleh seluruh mujtahid baik dari semua nagara, aliran, maupun madzhab saja.

Maka jika ada hukum yang hanya di sepakati salah satu madzhab, aliran atau hanya di sepakati dalam satu negara saja maka ijma’ tersebut tidak sah.

3. Kesepakatan Seluruh Mujtahid

Dalam menetapkan ijma’ semua mujtahid harus sepakat, kesepakatan tidak boleh terjadi hanya oleh sebagian mujtahid aliran-aliran tertentu, atau hanya sebagian madzhab tertentu. Maka dari itu jika kesepakatan hanya terjadi pada sebagian saja maka ijma’ tidak sah.

Macam-Macam Ijma’

Macam-macam ijma’ ada dua yaitu ijma’ sharih dan ijma’ sukuti. Ijma’ sharih ialah ijma’ yang mana semua mujtahid menyepakatinya secara keseluruhan baik dalam ungkapan-ungkapan (mujtahid sama-sama menyampaikan kesepakatannya) maupun perbuatan.

Dalam hal ijma’ sharih ini semua ulama’ sepakat bahwa ijma’ sharih ini dapat di jadikan sebagai hujah dan dalil sumber hukum Syari’at, dan dalam hal ijma’ sharih ini pula berlaku hukum kufur bagi orang yang mengingkari karena ijma’ ini bagian dari dalil qoth’i yang tidak boleh di ingkari.

Ijma’ sukuti adalah ijma’ yang disepakat oleh sebagian mujtahid dan yang lainnya diam tetapi juga tidak mengingkari. Bila terjadi pengingkaran atau perbedaan pendapat antar mujtahid maka hal tersebut belum di sebut sebagai ijma’ sukuti.

Ijma’ sukuti ini ulama’  masih khilaf, menurut Syafi’iyah dan Dhahiriyah ijma’ sukuti tidak dapat jadikan sebagai hujjah. Sedangkan Hanafiyah, Malikiyah dan Ahmad mengatakan ijma’ sukuti dapat di jadikan sebagai hujah.

Baca juga: Mujtahid : Definisi, Tingkatan, Syarat-Syarat dan Contohnya

Dalil-Dalil Kehujjahn Ijma’

Dalil-dalil tentang ijma’ terambil dari tiga hal, yaitu Al-Qur’an , hadis dan aqli. Dalil ijma’ dari Al-Qur’an  di antaranya:

1. An-Nisa’ ayat 115, Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّه مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِه جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ࣖ

Artinya: “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban umat Islam mengikuti Rasulullah Saw. dan jalan orang-orang mu’min dan haram hukumnya berbeda dengan jalan yang di sepakati umat Islam. Dalam hal ini ijma’ bagian dari jalan orang-orang yang beriman.

Maka dari itu mengikuti ijma’ sama halnya dengan mengikuti jalan orang-orang yang beriman, mengikuti jalan orang beriman sama dengan mengikuti Rasulullah Saw.

2. Al-Baqarah ayat 143, Allah Swt. berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadikan umat Islam sebagai umat yang tengah-tengah di antara umat-umat lainnya. Umat yang tengah-tengah itulah umat yang adil yang dapat menjaga dari kesalahan.

3. Ali Imran ayat 110, Allah Swt. berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Artinya:  “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar”.

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam sebagai umat yang terbaik karena mereka memiliki sifat menyeru kebajikan dan mencegah kemungkaran. Karena sifat umat Islam yang amru bil ma’ruf wan aha ‘anil munkar (menyeru kebajikan dan melarang kemungkaran) maka ijma’ (kesepakatan) mereka memiliki nilai-nilai kebajikan dan melarang kemungkaran.

4. An-Nisa’ ayat 59, Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ

Artinya:  “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu”.

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk taat kepada Allah, Rasul dan ulul amri. Ulil amri ini di tafsiri dengan mujtahid. Dengan demikian ijma’ yang di sepakati mujtahid maka harus di ikuti dan tidak boleh di tentang sebagaimana perintah ayat tersebut.

Dalil ijma’ dari hadis ialah jumlahnya banyak. Dalil-dalil hadis ini adalah dalil ijma’ yang paling jelas dalam menjelaskan kehujjahan ijma’. Dalil-dalil hadi ini antara lain:

عن اَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

Arrtinya: Dari Anas bin Malik berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya umatku berkumpul atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian ikutilah kelompok yang besar.” (HR. Ibnu Majah)

Wahbah Zuhaili menerangkan dalam kitabnya bahwa dalil-dalil ijma’ yang senada dengan hadis tersebut banyak sekali dan sampai ke taraf mutawatir sebagaimana hadis berikut ini:

امّتي لا تجتمع على الخطأ. امّتي لا تجتمع على الضّلالة. لم يكن الله بالذي يجمع على الضّلالة. لم يكن الله ليجمع امّتي على الخطأ

Artinya; Umatku tidak akan berkumpul untuk kesalahan. Umatku tidak akan berkumpul untuk kesesatan. Allah tidak akan membuat umatku sepakat untuk melakukan kesesatan. Allah tidak akan membuat umatku berkumpul untuk melakukan kesalahan.

Hadis berikutnya yang di jadikan dalil ijma’ ialah:

ما رآه المسلمون حسنًا فهو عند الله حسن

Artinya: Sesuatu yang di lihat baik oleh orang-orang Islam maka hal itu baik pula di sisi Allah SWT.

Dalil ijma’ yang bersifat aqli ialah kesepakatan yang terjadi antara mujtahid adalah sesuatu yang sulit terjadinya.

Mereka sering terjadi perbedaan pendapat dalam hasil ijtihad mereka maka ketika terjadi kesepakatan (ijma’) di antara mereka maka mereka pasti memiliki sandaran dan dalil yang kuat sehingga mereka memiliki pandangan yang sama.

Oleh karenanya ijma’ ini menjadi dalil qoth’i yang harus di ikuti oleh seluruh umat Islam dan mujtahid sesudahnya tidak boleh berbeda dengan ijma’ sebelumnya.

Perbedaan Ulama’ Dalam Ijma’ Yang di Jadikan Hujjah

Ulama’ berbeda pendapat dalam ijma’ yang dapat di jadikan hujjah sebagaimana penjelasan berikut ini:

1. Ijma’ ahli Madinah. Menurut Imam Malik ijma’ Ahli Madinah dapat di jadikan hujah syari’at. Namun hal ini berbeda dengan pendapat Jumhur Ulama’. Jumhur Ulama’ tidak menjadikan ijma’ Ahli Madinah sebagai ijma’. Penjelasan detailnya dapat di lihat dalam teori amalu ahlul madinah.

2. Ijma’ kebanyakan ulama’ tetapi yang masih ada sebagian kecil yang belum sepakat. Hal ini dapat di jadikan hujjah pendapat ini di sampaikan oleh At-Thabari, Juhairi al-Tamimi, Ar-Razi al-Hanafi, Ibnu Hamdan, Al-Ghazali dan Al-Juaini.

Namun hal ini berbeda dengan jumhur ulama’, menurutnya ijma’ yang di hanya di sepakati oleh kebanyakan ulama’ saja maka tidak dapat di jadikan hujah.

3. Madzhab Dhahiriyah mengatakan bahwa ijma’ hanya berlaku untuk sahabat saja. Artinya seseorang yang dapat membuat ijma’ hanya sahabat saja, mujtahid dan ulama’ selain sahabat tidak dapat membuat ijma’.

4. Pendapat yang terakhir adalah ijma’ yang dapat di jadikan hujjah hanyalah ijma’nya Ahlul ‘Athrah (Ahlul Bait), ijma’nya Khulafaur Rasyidin, dan ijma’nya Sayyidina Abu Bakar RA. dan Sayyidina Umar RA.

Refrefsi:

1. Ahmad, Sihabuddin. Al-Dar Al-Lawami’ Fi Syarhi Jam’u Al-Jawami’. Madinah Munawaroh: Al-Jami’ah Al-Islamiyah, 2008.
2. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.
3. Khalaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fiqih. Al-Azhar: Maktabah Al-Da’wah, n.d.
4. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Ilmu Ushul Fiqih Wa Khulashakh Tarikh Tasyri’. Mesir: Mathba’ah Al-Madani, 2010.
5. Majah, Ibnu. Sunan Ibnu Majah. Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 2009.

 

Example 300250

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.