Example 728x250
Ilmu TafsirUshul Fiqih

Kandungan Hukum Yang di Tunjukan Amar dan Contohnya

174
×

Kandungan Hukum Yang di Tunjukan Amar dan Contohnya

Share this article
Kandungan Hukum Yang di Tunjukan Amar Dalam Al-Quran dalam Al-Quran dan Hadis
Example 468x60
Kandungan Hukum Amar

Kandungan hukum lafadh dengan sighat amar dalam Al-Qur’an  dan hadis tidak semuanya menunjukkan hukum yang wajib, terdapat juga kalimat amar yang menunjukkan hukum sunnah bahkan mubah.

Dari sinilah ulama’ berpendapat, jika kalimat amar dalam Al-Qur’an atau hadis tidak menunjukkan hukum perintah wajib maka hal tersebut bukan amar secara hakikat tetapi amar secara lafadhnya saja.

Wahbah Az-Zuhaili membagi kandungan hukum amar dua macam, yaitu wajib dan majazi sebagaimana penjelasan beriku ini:

A. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Wajib

Kandungan amar yang memiliki dilalah wajib di sebut amar hakiki karena sejatinya kata amar (perintah) pasti kandungan hukumnya adalah wajib.

Mustahil orang memerintah tanpa harus di kerjakan maka dari itu ulama’ mengatakan amar yang memiliki kandungan hukum wajib maka amar tersebut adalah amar hakiki.

Amar yang memiliki makna wajib adalah amar dalam Al-Qur’an  atau hadis yang tidak memiliki qorinah (tanda) yang mengarahkan kepada sunnah dan mubah.

Sedangkan menurut al-Ghazali, amar yang memiliki makna wajib adalah ayat Al-Qur’an  atau hadis yang di sertai dengan ancaman. Misalnya:

 وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ

Artinya: “Jika kamu junub, maka mandilah”.  (QS. Al-Maidah: 6)

Ayat ini menjelaskan kewajiban mandi atau tayamum ketika junub.

B. Amar Majazi

Sebagaimana penjelasan sebelumnya amar yang  hakiki adalah amar yang bermakna wajib maka amar yang memiliki kandungan hukum selain wajib maka di sebut amar majazi. Amar majazi terdapat dua puluh enam macam, namun Wahbah Zuhaili meringkas amar majazi dalam enam bagian saja, sebagaimana penjelasan berikut ini:

1. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Sunnah

Amar yang bermakna sunnah adalah amar yang tidak di sertai dengan ancaman. Misalnya:

وَالَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ الْكِتٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوْهُمْ اِنْ عَلِمْتُمْ فِيْهِمْ خَيْرًا وَّاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ ۗ

Artinya: “(Apabila) hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka. Berikanlah kepada mereka sebagian harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.  (An-Nur: 33).

 Ayat ini menjelaskan sunnahnya akad kitab (akad cicilan). Amar dalam akad kitabah ini hukumnya sunnah bagi majikannya karena bagi seseorang di beri kebebasan untuk melakukan tasaruf dalam barang yang ia miliki, bukan wajib.

2. Amar Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Irsyad, (menunjukkan)

Contoh dari amar yang bermakna irsyad ialah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ

Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. (QS. Al-Baqarah: 282)

Perintah menulis hutang piutang dalam ayat ini hanyalah bentuk irsyad (petunjuk) agar akad hutang piutang di lakukan dengan baik dan terhindar dari kesalahan. Qorinah (tanda) yang menunjukkan amar kandungan hukum irsyad adalah ayat berikutnya:

وَاِنْ كُنْتُمْ عَلٰى سَفَرٍ وَّلَمْ تَجِدُوْا كَاتِبًا فَرِهٰنٌ مَّقْبُوْضَةٌ. فَاِنْ اَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِى اؤْتُمِنَ اَمَانَتَه وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّه

Artinya: “Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah”. . (QS. Al-Baqarah: 283)

3. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Mubah

Amar yang bermakna mubah adalah amar yang berada setelah nahi (larangan). Misalnya:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ

Artinya: “Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah. (QS. Al-Jumu’ah:10)

Ayat ini menjelaskan tentang perintah untuk mencari rezeki. Ayat ini memiliki kandungan mubah dengan qorinah amar ini berada setelah ayat larangan melakukan jual beli pada saat adzan Jumat di kumandangkan.

4. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Ta’dib (etika)

Amar yang memiliki kandungan hanya mengajarkan etika yaitu misalnya  sabda Rasulullah Saw. kepada Umar Ibnu Salamah berikut ini:

يا غلام! سمّ اللَّه، وكُلْ بيمينك، وكُلْ مما يَليك

Artinya: “Wahai anak kecil bacalah bismillah, dan makalah dari kanan kemudian yang di sisinya”.

5. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Indzar (Menakut-nakuti), contohnya:

وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا لِّيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِهۗ قُلْ تَمَتَّعُوْا فَاِنَّ مَصِيْرَكُمْ اِلَى النَّارِ

Artinya: Dan mereka (orang kafir) itu telah menjadikan tandingan bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah (Muhammad), “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ke neraka.” (QS. Ibrahim: 30)

Perintah bersenang-senang bagi orang kafir tujuannya untuk menakut-nakuti mereka karena mereka hanya mendapatkan kesenangan di dunia saja sedangkan di akhirat mereka tidak akan mendapatkan bagian.

6. Amar Yang Memiliki Kandungan Hukum Doa

Amar yang memiliki kandungan makna doa banyak sekali terjadi dalam Al-Quran dan hadis. Contoh amar yang memiliki makna doa misalnya:

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Refrensi:

1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Mustashfa. Bairut Libanon: Dar al-Kutub al-’Ilmiah, 2010.
2. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.
3. Ghayatu Al-Wushul Fi Syarhi Lubbu Al-Ushul, n.d.
Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.