Example 728x250
KeislamanUshul Fiqih

Mujtahid : Definisi, Tingkatan, Syarat-Syarat dan Contohnya

425
×

Mujtahid : Definisi, Tingkatan, Syarat-Syarat dan Contohnya

Share this article
Mujtahid : Definisi, Tingkatan, Syarat-Syarat dan Contohnya
Mujtahid : Definisi, Tingkatan, Syarat-Syarat dan Contohnya
Example 468x60
Definisi Mujtahid

Secara bahasa mujtahid berasal dari bahasa arab yang berakar dari kata ijtahada yajtahidu ijitihadan. Mujtahid merupakan isim maf’ul dari kata ijtahada. Mujtahid memiliki makna berusaha keras dalam mencari sesuatu hingga mencapainya.

Secara istilah mujtahid adalah seorang ahli fiqih yang mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan hukum Syari’at beserta dengan dalil-dalilnya secara terperinci.

Maksudnya dalam melalukan ijtihad seorang mujtahid harus mengerahkan segala kekuatannya dalam mencari hukum syari’at, ia tidak boleh hanya melakukan setengah-setengah, karena di takutkan ada kekeliruan dalam hasilnya apa ia hanya melakukan dengan sembrono, itu sangat di larang.

Definisi ini senada dengan yang di kemukakan oleh Abdul Karim bin Namlah, menurutnya ijtihad adalah upaya seorang ahli fiqih untuk mencari hukum Syari’at dari dalil-dalil Syari’at dengan menggunakan metode penggalian hukum (istimbatul hukmi).

Baca juga: 

  1. Macam-Macam Ijma’ dan Pengertiannya
  2. Hukum Talfiq, Pengertian dan Contohnya
Tingkatan Mujtahid

Mujtahid dalam Islam semuanya tidak sama, mereka memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana berikut ini:

1. Mujtahid Muthlaq

Mujtahid muthlaq adalah mujtahid yang sudah mengusai syarat-syarat ijtihad secara keseluruhan. Mujtahid muthlaq ini terbagi menjadi dua, yaitu mujtahid muthlaq mustaqillah dan mujtahid muthlaq ghairu mustaqillah.

Mujtahid muthlaq mustaqillah adalah seseorang yang mengusai syarat-syarat mujtahid muthlaq serta memiliki kaidah dan ushul fiqih sendiri.

Dengan kaidah dan ushul fikihnya ia mengeluarkan hukum-hukum fiqih serta ia melakukan ijtihad di segala bidang fiqih dan ia melakukan ijtihad dalam permasalahan-permasalahan hukum yang baru yang belum ada hukumnya.

Mujtahid ini sulit di temukan pada masa ini atau mungkin bahkan tidak ada.

Mujtahid ini misalnya para ahli fiqih dari sahabat, tabiin, dan ulama’-ulama’ sesudahnya seperti Imam Zaid, Muhammad bakir, Abu Hanifah, Ja’far As-Shadiq, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad Ibnu Hambal, Al-Auza’i, Layits bin Sa’ad dan Ibnu Mundzir.

Mujtahid muthlaq ghairu mustaqillah adalah mujtahid yang menguasai syarat-syarat mujtahid tetapi ia tidak memiliki kaidah dan ushul fiqih sendiri.

Dalam melakukan ijtihad, mujtahid muthlaq ghairu mustaqillah ini masih mengikuti metode ijtihad dari mujtahid lain tetapi ia tidak taqlid (mengikuti) terhadap hukum hasil ijtihad mujtahid lainnya, ia sudah melakukan ijtihad sendiri karena ia sudah menguasai syarat-syarat menjadi mujtahid.

Contoh dari mujtahid ini adalah Abi Yusuf, Muhammad dan Zafir dari Mazhab Hanafiyah, Asyhab dari Madzhab Malikiyah, dan Imam Buaithi, Za’faroni, dan Muzani dari Mazhab Syafi’iyah.

2. Mujtahid Madzhab

Mujtahid madzhab adalah mujtahid yang berijtihad dalam madzhab-madzhab tertentu. Mujtahid ini masih mengikuti mujtahid yang di ikutinya saja, ia berijtihad dalam permasalahan yang baru yang belum ada hukumnya tetapi dalam permasalahan yang sudah  ada hukumnya dari mujtahidnya ia mengikuti pendapat dari mujtahid yang di ikutinya.

Dalam metode dan kaidah ijtihadnya ia juga masih mengikuti kaidah dan metode istimbatul hukmi dari mujtahidnya, tetapi walau demikian ia juga dapat mengembangkan kaidah ushul yang di buat oleh mujtahid yang di ikutinya.

Mujtahid seperti Hasan bin Zaid Al-Karkhi dan Tahawi dari madzhab Hanafiyah Abhari dan Ibnu Abi Zaid dari madzhab  Malikiyah, Abi Ishaq Asy-Syairozi dan Abi Ishaq Al-Marwazi dari madzhab Syafiyi’ah.

3. Mujtahid Tarjih

Selanjutnya adalah mujtahid tarjih. Mujtahid tarjih adalah mujtahid yang memiliki kemampuan untuk mentarjih pendapat-pendapat dari mujtahid yang di ikutinya.

Ia dapat mengklasifikasi qaul (pendapat) dari mujtahidnya karena ia sudah mengetahui mana pendapat yang unggul shahih dan pendapat yang lemah.

Mujtahid ini tidak jauh beda dengan mujtahid madzhab karena sejatinya ia masih berijtihad dalam ruang lingkup madzhabnya dan ia masih mengikuti kaidah ushul mujtahid imamnya, namun mujtahid ini memiliki kelebihan dapat membedakan mana pendapat rajih (unggul), shahih dan dhaif.

Mujtahid ini di antaranya Abi Thoyib Ath-Thabari,  Abi Hamid Al-Asfaroni, Rofi’i dan Nawawi dari madzhab Syafi’iyah,  Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Qudamah dan Ibnu Qoyyim dari Madzhab Hanabilah, Quduri, Marghinani dari madzhab Hanafiyah dan Qadhi Abdul Wahab, Syekh Khalil dari madzhab Malikiyah.

4. Mujtahid Fatwa

Yang terakhir adalah mujtahid fatwa. Mujtahid ini adalah seseorang ulama’ yang menguasai madzhab-madzhab tertentu baik dalam bidang kaidah ushulnya maupun hukum yang yang di keluarkan oleh mujtahidnya, lalu ia menuqil dan memberi fatwa dengan hukum dari mujtahid yang di ikutinya.

Mujtahid seperti ini dari masa ke masa  jumlahnya banyak, ia memberikan fatwa kepada masyarakat sesuai pendapat mujtahid yang di ikutinya. Namun ia juga melakukan ijtihad jika  belum ada hukum dari mujtahid yang di ikutinya.

Syarat- Syarat Mujtahid

Syarat-syarat mujtahid adalah syarat-syarat yang harus di miliki oleh seorang mujtahid sehingga ia memiliki kompetensi mujtahid dan ijtihadnya benar. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut:

1. Menguasai Ayat-Ayat Ahkam Beserta Ilmu Tafsirnya

Mujtahid harus mengetahui dan memahami ayat-ayat ahkam (ayat-ayat hukum Syari’at)  beserta penafsirannya. Ayat ahkam tersebut berjumlah lima ratus ayat. Mujtahid tidak cukup hanya mengetahui ayat-ayat ahkam saja ia juga harus mengetahui ilmu tafsirnya.

Ilmu tafsir yang di maksud adalah ilmu nahwu, sharaf, ilmu dan kaidah tafsir, ilmu balaghah, asbabun nuzul dan keilmuan tafsir lainnya. Dalam kaitannya istimbatul hukmi dari ayat-ayat hukum ulama’ sudah menyusun metodologinya, metodologi itu di sebut dengan ushul fiqih.

Menurut Wahbah Az-Zuhaili seorang mujtahid tidak  harus mengetahui keseluruhan ayat Al-Qur’an , ia juga tidak harus hafal, ia  cukup mengetahui tempatnya saja sehingga ia dapat mengambil rujukan dan dapat menjadinya dalil ketika ia membutuhkan.

2. Menguasai Hadis-Hadis Ahkam dan Ilmu Hadis

Syarat selanjutnya ialah mujtahid mengetahui hadis-hadis yang berkaitan hukum Syari’at. Seorang mujtahid tidak harus menghafalkannya ia cukup mengetahuinya saja dan mengetahui tempat-tempatnya sehingga ia mampu mengambil rujukan dari tempatnya. Tidak hanya itu mujtahid juga harus mengetahui ilmu-ilmu hadisnya sehingga ia mengetahui hadis dhaif, hadis maudhu’ dan mengetahui rawi-rawi yang memiliki cacat. Menurut Ibnu Arabi hadis-hadis yang menerangkan tentang hukum terdapat tiga ribu, sedangkan menurut Ahmad seribu dua ratus.

Menurut Syaukani seorang mujtahid harus mengetahui kitab-kitab hadis induk seperti kitab hadis Shahih Bukhari,  Shahih muslim, Sunan Abi Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah.

3. Menguasai Nasikh Mansukh

Seorang mujtahid harus mengetahui ayat-ayat dan hadis yang sudah di nasikh.  Hal ini menjadi syarat agar mujtahid tidak mengambil dalil dari ayat dan hadis yang sudah di nasikh sehingga ia tidak fatal dalam ijtihadnya. Kitab-kitab yang menjelaskan tentang nasikh mansukh sudah banyak, kitab dapat di jadikan rujukan untuk mengetahui nasikh mansukh.

4. Mengetahui Ijma’

Syarat selanjutnya mujtahid harus mengetahui semua ijma’ yang sudah di buat oleh mujtahid-mujtahid, baik produk ijma’ mujtahid sebelumnya maupun hasil ijma’ mujtahid yang sekarang. Walaupun ijma’ harus di ketahui tetapi ijma’ tidak harus hafal, mengetahuinya saja sudah cukup.

Ijma’ ini harus di ketahui agar mujtahid dapat menghasilkan produk ijtihad yang tidak berbeda dengan ijma’ sebelumnya karena hal ini dapat  mengakibatkan ijtihad yang tidak sah dan batal karena ijma’ adalah dalil syari’at yang qoth’i dan hukumnya kufur bagi orang  yang menentangnya.

Menurut Imam Syafi’i seseorang tidak di perbolehkan berijtihad selama ia belum mengetahui hasil ijtihad mujtahid sebelumnya, baik yang berupa ijma’ maupun hasil ijtihad yang masih khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat antara ulama’).

5. Menguasai Teori Qiyas

Mujtahid juga harus mengetahui metode qiyas beserta syarat-syaratnya sebagaimana penjelasan sebelumnya. Selain itu mujtahid juga harus mengetahui ‘illat-’illat hukum dan metode istimbatul hukmi (metode penggalian hukum).

Qiyas menjadi syarat bagi mujtahid karena qiyas adalah bagian dari dalil dan sumber hukum syari’at yang keempat, di mana mujtahid harus menggunakan metode qiyas ini ketika ia sudah tidak menemukan jawabannya di dalam Al-Qur’an  dan hadis.

6. Menguasai Ilmu-Ilmu Gramatikal Bahasa Arab

Seorang mujtahid di syaratkan harus mengetahui ilmu-ilmu bahasa arab dari mulai nahwu, sharaf, badi’ bayan, uslub-uslub beserta makna-maknanya. Hal ini menjadi syarat mengingat Al-Qur’an  dan hadis yang menjadi sumber utama hukum Islam menggunakan bahasa arab. Jika seorang mujtahid tidak dapat mengetahui ilmu-ilmu bahasa arab maka ia akan fatal karena ia tidak akan mampu memahami Al-Qur’an  dan hadis. Begitu juga ia tidak mampu memahami hukum-hukum Islam yang semuanya lahir dan menggunakan bahasa arab serta pada saat ini rujukan utama keislaman berpusat di arab dan menggunakan bahasa arab.

7. Menguasai Ushul Fiqih

Syarat selanjutnya bagi mujtahid, ia harus memiliki ilmu ushul fiqih. Ushul fiqih adalah metode-metode yang di gunakan untuk mengeluarkan hukum-hukum Syari’at. Dengan menggunakan metode ini seorang mujtahid dapat melakukan ijtihadnya dan dapat mengeluarkan hukum mengingat metode ini adalah metode yang di susun oleh ulama untuk membuat hukum Syari’at.

Selain itu mujtahid juga harus mengetahui maqasid syari’ah. di maqasid ini adalah ilmu yang membahas tujuan-tujuan Syari’at. Beberapa karya yang membahas tentang maqasid syariah sudah banyak di antaranya adalah kitab ­al-muwafaqat karya Asy-Syatibi yang di kenal sebagai bapak  maqasid klasik sedangkan pada saat ini tokoh maqasid yang paling populer adalah Ibnu ‘Asyur yang juga di kenal sebagai bapak maqasid kontemporer.

Semua syarat-syarat mujtahid di atas adalah syarat-syarat mujtahid muthlaq.  Sedangkan syarat-syarat mujtahid muqayyad atau mujtahid juz’i tidak harus menguasai syarat-syarat di atas, ia cukup mengetahui ilmu yang berhubungan dengan hal-hal yang di ijtihadinya saja seperti hal ekonomi, muamalah, jinayah, jihad, waris dan semacamnya sesuai yang ia ijtihadi dalam bidang keilmuan tertentu.

Sedangkan mujtahid mazhab maka ia juga tidak harus menguasai syarat-syarat di atas, ia cukup menguasai keilmuan mazhabnya saja, pendapat-pendapat mujtahid mazhabnya, ilmu ushul fiqih madzhabnya beserta dalil-dalil dan furu’-furu’nya (produk ijtihad mazhabnya).

Refrensi:

1. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.
2. Abdul Karim Bin Namlah. Al-Muhadzab Fil Ilmi Ushulul Fiqih Al-Muqaran. Riyadh: Maktabah Ar-Rasyid, 1999.
3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Mustashfa. Bairut Libanon: Dar al-Kutub al-’Ilmiah, 2010.
4. Asy-Syaukani. Irsyadu Al-Fuhul. Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1999.
5. Yusuf, Abdullah Bin. Taisir Ilmu Ushul Fiqih. Bairut Libanun: Muassisah Ar-Rayan, 1997.
Example 300250

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.