Example 728x250
Tafsir Ayat Populer

Penafsiran Surah Al-Baqarah Ayat 185-187: Bulan Ramadhan

40
×

Penafsiran Surah Al-Baqarah Ayat 185-187: Bulan Ramadhan

Share this article
Doa Ketika Mengendarai Kendaraan
Doa Ketika Mengendarai Kendaraan
Example 468x60
Surah Al-Baqarah Ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185-187)

Bulan Ramadhan

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَالْفُرْقانِ

Lafadh syahru ramadhana ada yang membaca rofa’ dan ada membaca nashab sebagaimana penjelasan berikut ini:

  1. Menurut Imam Kasa’i dibaca rofa’ dengan menjadi badal dari lafadh shiyam dalam kutiba ‘alaikumus shiyamu. dengan demikian  maka akan menjadi:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصيام  شَهْرُ رَمَضَانَ

  1. Menurut Imam Faro’ dan Ahfasy  lafadh syahru ramadhana dibaca rafa’ dengan menjadi khabar dari damir yang menjadi mubtada’ yang dibuang yang kembali kepada ayyamam ma’dudat. Maka lafadhnya menjadi:

هِيَ شَهْرُ رَمَضَانَ

  1. Dibaca nashab dengan menjadi maf’ul bih dari laf adh shumu yang di  buang. Dengan maka akan menjaadi:

صُومُوا شَهْرَ رَمَضَانَ 

  1. Dibaca nashab dengan menjadi badal dari lafadh ayyamam ma’dudat.

Dari ke semua penafsiran-penafsiran di atas maka dapat disimpulkan bahwa syahru ramadhana adalah bulan yang diwajibkan berpuasa yang disebutkan  pada awal surah Al-Baqarah ayat 183.

Ulama berbeda pendapat di dalam asal mula nama Ramadhan. Menurut Mujahid  Ramadhan adalah salah satu dari nama Allah sebagaimana yang terdapat di dalam hadis:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا تَقُولُوا جَاءَ رَمَضَانُ وَذَهَبَ رَمَضَانُ وَلَكِنْ قُولُوا: جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَذَهَبَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَإِنَّ رَمَضَانَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى»

Ada pula Ulama’  yang  mengatakan Ramadhan adalah nama bagi bulan sebagaimana nama-nama bulan lainnya seperti  bulan  Sya’ban, Bulan Rajab dll. Bagi ulama yang mengatakan Ramadhan adalah nama Allah maka  bulan tersebut akan membawa berkah dan rahmat sehingga dosa-dosa akan  terhapus  dengan keberkahan bulan  Ramadhan tersebut.

Penetapan Awal Ramadhan

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Seseorang yang melihat tanggal maka wajib baginya berpuasa. Ayat ini menjelaskan tentang awal wajibnya berpuasa yaitu ketika melihat Hilal tanggal 1 bulan ramadhan. Melihat Hilal bisa dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Maka jika ia tidak melihat Hilal tetapi orang-orang di sekitarnya sudah melihat Hilal maka wajib pula baginya berpuasa.  Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat beberapa metode dalam penentuan awal bulan Ramadhan.

Pemerintah menetapkannya lewat sidang isbat.  di dalam bidang tersebut pemerintah yang diwakili oleh menteri agama dan mengambil suatu keputusan yang diambil dari mayoritas  dari perwakilan-perwakilan  Ormas dan lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk  melihat hilal.

Walaupun pemerintah menetapkan metode demikian, tetapi realitas yang terjadi, tidak semua masyarakat di Indonesia mengikuti pemerintah.

Masyarakat di Indonesia lebih condong mengikuti Ormas dan tokoh agamanya masing-masing. Ada pula yang mengikuti Kyai di pesantren tempatnya mondok.

Secara metode penentuan awal bulan Ramadhan terdapat dua macam yaitu ru’yatul hilal dan Hisab. Ru’yatul hilal diikuti oleh NU dan sebagian pesantren sedangkan hisab  diikuti oleh Muhammadiyah.

Rukhsakh Bagi Orang Sakit dan Musafir

وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ

Ayat ini menjelaskan rukhsah puasa pada bulan Ramadhan. Penjelasan rukhsah pada ayat ini merupakan  pengulangan penjelasan rukhsah dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 sebelumnya.

Menurut Wahbah Az-Zuahili pengulangan penjelasan rukhsah ini adalah  penegasan bahwa mengambil rukhsah itu di perbolehkan bahkan  ada yang berpendapat lebih afdhal dari berpuasa jika  berpuasa memberatkan.

Pada ayat ini dijelaskan pula maqasid dari rukhsah tersebut, yaitu tujuannya untuk memberi kemudahan dan agar tidak menyengsarakan. Di sinilah dapat diketahui bahwa agama Islam Bukan agama yang memberatkan tetapi agama yang memberi kemudahan.

Walaupun seseorang di syariatkannya bermacam-macam tapi tujuannya bukan untuk memberatkan tetapi untuk harus   kemaslahatan.  Pada itu pula jika seseorang tidak mampu mengerjakannya maka masih  terdapat rukhsah yang memberi hukum yang lebih ringan.

Menyempurnakan Puasa

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

Penafsiran ayat ini terdapat dua pendapat,  yaitu:

  1. Ayat ini memerintahkan untuk menyempurnakan qadha’ sesuai bilangan puasa yang ditinggalkan.
  2. Ayat  ini memerintahkan untuk menyempurnakan puasa pada bulan Ramadhan sesuai bulannya.  Jika  bulan  Ramadhan 29 hari maka seseorang berpuasa 29 hari.  Jika bulan Ramadhan 30 hari maka seseorang berpuasa 30 hari.
Takbir

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ

Maksud dari ayat ini  ialah  Umat Islam di perintahkan mengumandangkan takbir pada malam  Idul Fitri.  Ibnu  Abbas berkata:  Hak seorang muslim ialah  mengumandangkan takbir ketika melihat Hilal bulan Syawal.

Menurut Imam Syafi’i  sangat disukai mengumandangkan takbir pada malam Idul Fitri dan Idul Adha.  Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Ishak, Abu Yusuf dan Muhammad.

Menurut Abu Hanifah di makruhkan makan pagi pada hari Idul Fitri.   Argumentasi Imam Syafi’i  menafsiri demikian  karena pada kalimat sebelumnya  yaitu walitukammilul ‘iddata  ditafsiri dengan menyempurnakan bulan Ramadhan.

Maka ketika bulan Ramadhan selesai maka  umat Islam memandangkan takdir pada malam  Idul Fitri.

QS. Al-Baqarah: 187

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu.

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 187)

Pada ayat sebelumnya  Al-Qur’an menjelaskan tentang fardunya  puasa, rukhsah, fidyah dan bulan Ramadhan. Pada ayat ini akan dijelaskan tentang hal-hal yang diperbolehkan pada bulan Ramadan yang sebelumnya diasumsikan sebagai hal-hal yang dilarang.

Berhubungan Suami Istri

Hukum berhubungan suami istri:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلى نِسائِكُمْ

Ayat ini menjelaskan tentang  halalnya berhubungan suami istri pada malam bulan Ramadan. Berhubungan suami istri dalam ayat ini diungkapkan dengan kata al-rafast.

Menurut Azhari al-rafast maknanya adalah  segala sesuatu yang  diinginkan laki-laki dari perempuan. Kata al-rafast makna asalnya adalah perkataan yang jorok.

Kemudian kata ini dibuat ungkapan untuk berhubungan suami istri pada  malam  hari ketika berpuasa. Karena seseorang yang berhubungan suami istri tidak lepas dari perkataan jorok. Tujuan penggunaan kata ini adalah agar lebih sopan dan beretika.

Selanjutnya Al-Quran menjelaskan sebab dihalalkannya berhubungan suami istri:

Sebab pertama:

هُنَّ لِباسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِباسٌ لَهُنَّ

Ayat ini menjelaskan alasan mengapa berhubungan suami istri dihalalkan pada malam bulan puasa, yaitu karena Suami istri adalah  pakaian ( tutup)  bagi suami  dan suami pakaian ( tutup)  bagi Istri.

Artinya kebutuhan seksualitas adalah kodrat bagi manusia di mana hal tersebut merupakan suatu kebutuhan yang harus di penuhi dengan demikian, maka yang dapat menutupi kebutuhan tersebut adalah suami dan Istrinya.

Sebab kedua:

عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ 

Allah mengetahui kalian akan berkhianat jika hal tersebut dilarang lalu kalian bertobat. Artinya berhubungan suami istri jika di haramkan pada malam puasa maka Allah akan mengetahui kalian akan menghianati hukum tersebut.

Selanjutnya:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ

Ayat ini memerintahkan untuk berhubungan suami istri. Meski di ungkapkan dengan kata amar namun kata amar di sini adalah amar majazi yang bermakna ibahah (boleh di lakukan dan tidak wajib) karena amar di  sini berada setelah larangan.

Selanjutnya:

وَابْتَغُوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

Ayat ini memerintahkan untuk mencari hukum dari kitab Allah. Artinya seseorang harus mengikuti hukum yang sudah di tentukan Allah dalam hal puasa, yaitu hukum halalnya berhubungan suami istri pada hari ketika berpuasa. Ayat ini  menganulir dugaan bahwa berhubungan suami istri di haramkan pada malam hari ketika berpuasa.

Makan dan Minum

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ

Ayat ini menjelaskan di perbolehkan makan dan minum pada malam hari sampai keluarnya fajar. Pada ayat ini kata fajar tidak ikut pada penurunan ayat ini. Lalu sahabat bingun dan tidak dapat memahami kata:

  الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ

Lalu Malaikat Jibril turun kembali untuk menurunkan kata al-Fajr. Sehingga jelaslah maknanya tersebut.

Ayat ini selain menjelaskan tentang diperbolehkannya makan dan minum  malam bulan puasa,  ayat ini juga  menjelaskan tentang waktunya puasa yaitu mulai keluarnya wajar sampai malam yaitu  tenggelamnya matahari.

Dengan batasan waktu puasa ini maka dapat diambil kepahaman pula  diperbolehkan bagi seorang junub pada pagi hari  setelah subuh. Hal ini diambil dari isyarat Ayat tersebut yang memperbolehkan seseorang makan hingga keluar fajar.

Dengan demikian maka ketika fajar sudah keluar Maka hukum-hukum larangan berpuasa baru diberlakukan.  pada saat itu dimungkinkan orang masih junub. karena demikian maka hukum junub pada pagi hari di perbolehkan dan hukum puasanya sah.

I’tikaf

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عاكِفُونَ فِي الْمَساجِدِ

Walaupun berhubungan suami istri di perbolehkan pada malam bulan puasa  tetapi berhubungan suami istri tidak di perbolehkan ada saat ini i’tikaf.  Jika itu dilakukan maka di i’tikafnya batal.

Itu semua adalah ketentuan hukum dari Allah. Allah menjelaskan semua ketentuan hukumnya kepada manusia Agar kalian dapat bertakwa.

Itulah penafsiran surah Al-Baqarah Ayat 185-187 tentang Bulan Ramadhan, semoga dapat memberi manfaat.

Referensi:

Al-Razi, Fakhrudin. Mafatih Al-Ghaib. Bairut: Dar al-Ihya’, n.d. i: 140.

Az-Zuhaili, Wahbah Bin Mushthafa. Tafsir Al-Munir. Damaskusy: Dar al-Fikr, 1418.

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.