Example 728x250
Tafsir Ayat Populer

Penafsiran Surah Al-Baqarah Tentang Bulan Haji

41
×

Penafsiran Surah Al-Baqarah Tentang Bulan Haji

Share this article
Surah Al-Baqarah Tentang Bulan Haji
Surah Al-Baqarah Tentang Bulan Haji
Example 468x60
Surah Al-Baqarah Tentang Bulan Haji

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: “Haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!.” (QS. Al-Baqarah 197)

Bulan-Bulan Haji

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوماتٌ

Artinya: “Haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.”

  1. Lafadh Al-Haj

Kalimat ini membuang lafadh oleh karenanya lafadh al-hajju ini harus ditakwil.  Terdapat empat  penta’wilan yang di kemukakan oleh ulama’:

Pertama di ta’wil dengan:

أَشْهُرُ الْحَجِّ أَشْهَرٌ مَعْلُومَاتٌ

Artinya: bulan-bulan Haji adalah bulan-bulan yang sudah di ketahui.

Kedua di ta’wil dengan:

الحج حج أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

Artinya: haji adalah haji pada bulan-bulan yang sudah di ketahui.

Maksudnya tidak boleh haji kecuali pada bulan-bulan yang sudah di ketahui. Sedangkan pada selain bulan tersebut tidak di perbolehkan melaksanakan haji sebagaimana haji pada masa Jahiliyah.

Ketiga menurut Abu Zakariya Al-Farra’ lafadh al-Haj di ta’wil dengan:

وقتُ الحجِّ هذه الأشهُرُ

Artinya: Waktu haji adalah bulan-bulan ini.

Keempat lafadh al-Haj asyhurum ma’lumat tidak ada penta’wilan. Artinya lafadh tersebut berlaku sebagaimana dalam ayat tersebut.

  1. Asyhur

Lafadz ini menjelaskan  waktu haji. Semua Mufasir sepakat bahwa yang dimaksud dengan  lafadz asyhur ini adalah bulan Syawal dan Dzulqa’dah. Lalu Ulama berbeda pendapat dalam bulan Dzulhijjah.

Pertama, Menurut ‘Urwah bin Zubair seluruh bulan Dzulhijjah adalah bulan Haji. Pendapat ini adalah pendapat Imam Malik.  Terdapat beberapa hujjah yang di kemukakan oleh Imam Malik. Hujjah tersebut:

Hujjah pertama, lafadh asyhur adalah lafadh dengan bentuk jama’ yang berarti paling sedikit adalah tiga. Hujjah kedua, Hari nahar adalah bagian dari hari haji yang mana pada hari itu di lakukan pelemparan jumrah.

Sehingga jika Wanita haid pada hari tersebut maka ia tidak dapat melakukan pelemparan jumrah. Sehingga orang Wanita yang haid maka ia akan kehilangan kewajiban hajinya.

Meski terdapat pendapat ‘Urwah yang memperbolehkan wanita yang haid mengakhirkan pelaksanaan Jumrahnya. Namun hal tersebut adalah qodha’.

Dengan demikian maka pelaksanaan hajinya tidak di lakukan.  Padahal mentaklif sesuatu yang tidak dapat lakukan adalah batal. Oleh karena itu Imam Malik berpendapat waktu haji pada bulan Dzulhijjah adalah seluruhnya.

Kedua, Menurut Abu Hanifah bulan Dzulhijjah yang menjadi bulan haji hanyalah 10 hari awal dari bulan tersebut. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Nakha’i, Sya’bi, Mujahid, dan Hasan.

Hujjah di kemukakan kelompok ini adalah: Pertama, Sebagian Ahli tafsir menyangka bahwa hari haji akbar adalah hari nahar. Kedua, hari nahar adalah waktu dari rukun haji yang berupa tawaf ziarah.

Ketiga, menurut Imam Syafi’i bulan Dzulhijjah yang menjadi  bulan haji hanyalah 9 hari  awal dari bulan Dzulhijjah yang di mulai dari Hari Nahar.

Dalil yang di kemukakan olehnya adalah karena waktu haji habis ketika keluarnya fajar pada hari nahar dan ibadah tidak mungkin habis jika waktunya masih ada. Pendapat ini adalah ketetapan madzhabnya.

  1. Ma’lumat

Penafsiran ma’lumat terdapat tiga: Pertama,  Haji hanya dilaksanakan dalam satu tahun satu kali yaitu dilaksanakan pada bulan-bulan yang sudah diketahui.

Haji tidak sama seperti umroh yang dilaksanakan berkali-kali dalam satu tahun. Kedua,  yang di kehendaki penafsiran maklumat ialah penjelasan Rasulullah SAW.

Ketiga,  yang dimaksud dengan maklumat adalah waktu yang sudah ditentukan.  oleh karenanya  haji tidak diperolehkan dilaksanakan sebelum waktu tersebut dan juga tidak boleh di akhirkan dari waktu tersebut.

Larangan-Larangan Ketika Haji

فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ

Artinya; “Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.

Penafsiran dari ayat ini adalah seseorang yang melaksanakan haji, maka ia wajib menjauhi hubungan suami istri, menjauhi  hal-hal maksiat, dan larangan-larangan haji, seperti berburu menggunakan parfum, berhias, dan menggunakan pakaian yang dijahit, Bertengkar,  bermusuhan,  dan memanggil dengan julukan.

Tujuan dari itu semua  karena Tujuan dari Haji adalah menghindari hal-hal yang bersifat duniawi,  budaya dan hal-hal yang merusak haji serta Haji juga bertujuan untuk menyucikan manusia dari dosa dan kesalahan.  Oleh karenanya maka sudah jelas tujuan dari haji ialah untuk menyucikan diri manusia dan syiar Untuk ibadah kepada Allah SWT.

Diriwayatkan dalam kitab Bukhari Muslim dari Abu Hurairah.  Rasulullah bersabda:

من حج، ولم يرفث، ولم يفسق، خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه

Artinya: “ seseorang yang Haji dan dia tidak melakukan hubungan suami istri dan serta tidak berhasil maka dia keluar dari desanya seperti pada saat Hari  Dilahirkan oleh ibunya.” (HR.  Bukhari Muslim)

Balasan Bagi Yang Taat Ketika Haji

وَما تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Artinya:  tidak ada sesuatu yang kalian lakukan dari kebaikan yang tidak diketahui.

Maksudnya ketika orang yang haid tidak melakukan hubungan suami istri dan tidak fasik serta tidak  bermusuhan,  dan ia menghindari hal-hal yang kotor dan menghias diri dengan perbuatan-perbuatan yang utama maka Allah mengetahuinya dan Allah akan membalas setiap kebaikannya ia lakukan.

Bekal Takwa

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى

Artinya: Membawa bekalah kalian. Bekal yang terbaik  adalah takwa.

Maksudnya dari sebaik-sebaiknya bekal adalah takwa karena takwa dapat mengantarkan seseorang untuk  melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi hal-hal yang dilarang.

Jika seseorang tidak memiliki  rasa takwa  maka  sulit baginya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang sudah  diwajibkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena  ketika seseorang  sudah bertakwa (dalam hatinya ada rasa takut kepada Allah) maka ia akan takut  meninggalkan hal-hal yang diperintahkan Allah dan melakukan hal-hal yang dilarang Allah.  oleh karenanya takwa disebut sebagai sebaik-baiknya bekal.

QS. Al-Baqarah: 198-202

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَاۤءَكُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Artinya: “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.

Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya. (QS. Al-Baqarah: 198-202)

QS. Ali Imran: 96

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Artinya:   Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 96)

QS. Ali Imran 97: Haji

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97)

QS. Al-Haj 27: Haji

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ

Artinya: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Haj 27)

QS. Al-Maidah 2 : Haji

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya.

Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah 2)

Itulah penafsiran surah Al-Baqarahtentang bulan haji, semoga dapat memberi manfaat.

Referensi:

Al-Razi, Fakhrudin. Mafatih Al-Ghaib. Bairut: Dar al-Ihya’, n.d. i: 140.

Nurudin, Ibnu. Taisir Al-Bayan Li Ahkami Al-Quran. Darun Nawadir, 2012.

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.