Example 728x250
Tafsir Ayat Populer

Penafsiran Surah Al-Waqi’ah Ayat 77-79: Hukum Menyentuh Mushaf

69
×

Penafsiran Surah Al-Waqi’ah Ayat 77-79: Hukum Menyentuh Mushaf

Share this article
Penafsiran Surah Al-Baqarah Ayat 223: Hubungan Suami Istri
Penafsiran Surah Al-Baqarah Ayat 223: Hubungan Suami Istri
Example 468x60
Surah Al-Waqi’ah Ayat 77-79

اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ

Artinya; Sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),  tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah:  77-79)

Penafsiran Surah Al-Waqi’ah Ayat 77-79

 اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ

Kata Al-Quran dalam tersebut adalah masdar dengan menggunakan makna Isim maf’ul, yang berarti yang dibaca. Artinya yang di maksud dari Al-Quran dalam ayat tersebut Al-Quran yang sudah di tulis dalam mushaf.

Sedangkan kata Al-Maknun ada yang menafsirkan dengan lauh Mahfud yang tidak dapat dilihat kecuali malaikat seperti Malaikat Jibril dan Mikail. Ada juga yang menafsirkan kitabnya dengan mushaf dan Al-Maknun adalah Al-Quran yang terpelihara dalam hati, yang tidak dapat diganti dan di rubah.

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Quran yang ada di Lauh Mahfud. Ayat menggunakan kata inna  yang merupakan kata memiliki makna taukid.

Dalam teori qasam (sumpah) kata ini di sebut dengan qasam yang tersirat. Artinya ayat ini menunjukkan suatu yang urgen untuk di sampaikan.

Sangat urgen di sampaikan tujuannya untuk menolak pernyataan dan tuduhan kaum  musyrik yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah karangan Nabi Muhammad SAW. sesuai pendapat Ali Sabuni.

Menurut Ali Sabuni ayat ini adalah bagian dari ayat aqidah yang menjadi hujjah kenabian Nabi Muhammad SAW. Ayat ini tidak hanya menolak tuduhan dan pernyataan kaum musyrik,  ayat ini juga dapat menolak pernyataan orang yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya atau pernyataan orang yang mengatakan bahwa Al-Quran bahasanya dari Nabi Muhammad SAW. dan maknanya dari Allah.

لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْن

Pakar tafsir berbeda pendapat dalam menafsiri al-Muthohharun, menurut Ibnu Abbas Anas dan Mujahid kata al-Muthohharun ditafsiri dengan malaikat yang suci dari dosa, penafsirannya ini didasarkan kepada dua ayat sebelumnya.

Artinya menurut mereka Al-Quran yang berada di Lauh Mahfud tidak ada orang yang bisa menyentuh kecuali malaikat.

Dengan penafsiran ini maka tidak ada kaitannya dengan hukum menyentuh mushaf. Sedangkan menurut ulama yang lain kata Al-Muthaharun ditafsiri dengan bersuci dengan air atau orang yang suci dari hadas.

Salman Al Farisi mengatakan kepada kaum yang bertanya tentang Al-Quran dan mereka hendak berwudhu karena hadas: sesungguhnya aku tidak menyentuhnya dan dia tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci.

Pendapat ini sesuai dengan pendapat ahli fiqih seperti Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Menurut Abdul Rahman Bin Abi Zinad dari bapaknya dari seseorang yang menemui Ali fiqih dari Madinah mereka berkata la yamassul qurana Ilatthohirun ( tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci).

Kata al-muthoharun yang ditafsiri dengan orang yang suci dari hadas sesuai dengan apa yang dilakukan saudaranya Sayyidina Umar Bin Khattab RA. ketika melarang Sayyidina Umar memegang Al-Quran.

Hal ini terjadi ketika Sayyidina Umar melihat saudaranya membaca Al-Quran lalu dia mengambilnya dan tidak diperbolehkan oleh saudaranya karena tidak berwudhu’. Yang pada akhirnya membuat Sayyidina Umar masuk Islam karena melihat Al-Quran.

Menurut Ali Sabuni perbedaan pendapat di latar belakangi oleh perbedaan marji’ damir (tempat kembalinya damir). Ketika damir kembali kepada Al-Quran maka penafsirannya adalah suci dari dua hadas, hadas besar dan kecil serta la dalam yamassuhu bermakna la yanbaghi sebagaimana la dalam لزاني لَا يَنكِحُ إِلَاّ زَانِيَةًا.

Namun bila damirnya kembali kepada fi kitab maka penafsiran al-muthohhirun di tafsiri dengan malaikat-malaikat yang suci.

Itulah penafsiran surah al-Waqi’ah ayat 77-79 tentang hukum menyentuh mushaf, semoga dapat memberi manfaat.

Referensi :

1. Nurudin, Ibnu. Taisir Al-Bayan Li Ahkami Al-Quran.Darun Nawadir, 20102.
2. Shobuni, Ali. Rowai’ul Bayan. Bairut Libanon: Maktabah Al’Ashriyah, 2015.

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.