Example 728x250
Tafsir Ayat Populer

Penafsiran Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6: Tayamum

33
×

Penafsiran Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6: Tayamum

Share this article
penafsiran Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6 tentang tayamum
penafsiran Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6 tentang tayamum
Example 468x60

Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗوَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا

  1. Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati Shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.
Larangan Shalat Ketika Mabuk dan Junub

Allah Swt. melarang seseorang yang mabuk untuk melaksanakan shalat lewat firmannya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى

Larangan shalat bagi orang yang mabuk ini adalah larangan yang bersifat haram. Artinya jika seseorang sedang mabuk lalu ia melaksanakan shalat maka shalat hukumnya haram serta shalatnya tidak sah.

Ilat yang menjadi keharaman tersebut adalah seseorang mabuk tidak sadar atau tidak mengetahui apa yang mereka katakan. Oleh karenanya jika seseorang minum minuman yang memabukkan yang masih dalam kondisi sadar maka shalatnya sah.

Illat ini terambil dari حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ. Secara dhahirnya ayat ini memang secara tekstual tidak berbicara tentang illat keharaman shalat ketika mabuk karena kalimatnya menggunakan kata hatta yang makna asalnya adalah ghayah.

Walaupun demikian ghayah bisa menempati tempatnya illat. Dengan demikian maka hatta ta’lamu ma taqulun dapat di jadikan illat keharaman shalat ketika mabuk.

Larangan shalat bagi orang junub ialah ayat berikut ini:

 وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗ

Dalam menafsirkan ayat tersebut Ulama’ berbeda pendapat: Pertama yang di larang adalah shalat itu sendiri. Kedua, yang di larang adalah mendekati  shalat sekaligus tempat shalat, yaitu masjid. Menurut Atho’ Bin Yasar dari riwayat Ibnu Abbas RA.

Penafsiran اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ  adalah seseorang berjalan melewati tempat shalat. Artinya seseorang yang junub di perbolehkan melewati masjid dengan hanya lewat saja dan ia tidak diam di dalamnya.

Pendapat ini sesuai dengan asbabun Nuzul ayat ini adalah riwayat layits dari Zaid Bin Abi Habib bahwa seorang laki-laki dari sahabat anshar junub dan tidak ada air di sisinya.

Sahabat tersebut  pintu rumahnya berada di masjid. Ia tidak bisa lewat kecuali lewat dalam Masjid. Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Kata junub adalah kata yang memiliki makna jauh sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa’36, yaitu والجارالجنب. Kata ini di gunakan untuk kata junub karena orang yang jauh dari mendekat kepada Allah karena terhalang hadas besar.

Asal kata junub adalah jinabah, yang berarti keluarnya air dengan taladzudz. Terkadang kata junub juga di gunakan untuk air itu sendiri. Maksudnya kata junub juga dapat bermakna air.

Di riwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah RA. ia berkata:

كنت أغسلُ الجنابةَ من ثوبِ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – فيخرج إلى الصلاة وبقع الماء على ثوبه

Artinya: “Saya mandi jinabah dari bajunya Rasulullah SAW.. Lalu keluar untuk shalat dan air mengenai bajunya. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah menjelaskan bertemunya dua kemaluan laki-laki dan wanita tanpa keluar sperma maka hal tersebut seperti keluar sperma, artinya wajib mandi.

Begitu juga seorang perempuan yang inzal tanpa jima’ maka hal tersebut seperti jima’, artinya wajib mandi.

Sebab-Sebab Tayamum

Sebab-sebab dalam tayammum adalah sebagai berikut:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا

Dalam ayat ini di jelaskan bahwa sebab tayamum yaitu sakit safar, buang air besar dan menyentuh perempuan. Berikut ini penafsirannya:

  • Safar atau musafir yang di perbolehkan tayamum adalah seseorang ketika bepergian yang tidak menemukan air.
  • Sedangkan sakit yang memperbolehkan tayamum adalah sakit ketika tidak dapat menggunakan air karena sakitnya takut tambah parah. Sakit di sini juga dapat diartikan sakit yang jika menggunakan air akan mendapatkan mudhorot dan masyaqah hal ini didasarkan pada QS Al Hajj 78.
  • Kata ghaith makna bahasanya adalah lubang. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah seseorang yang habis buang air besar. Masyarakat Arab menggunakan terminologi ghaith untuk menunjukkan makna buang air besar walaupun makna aslinya bukan membuang air besar. Penggunaan kata ghaith  tersebut digunakan untuk makna membuang air besar tujuannya adalah adab.  Karena jika menggunakan kata aslinya maka hal tersebut kurang pantas.
  • لمستم النساء adalah, kata lamastum berasal dari kata lamsu. Makna hakikatnya adalah menyentuh dengan tangan, namun ketika kata langsung di mudhafkan kepada kata Annisa’ maka yang dimaksud adalah Jima’. Hal seperti ini sudah sering terjadi dalam bahasa Arab. Al-Quran juga menggunakan kata mubasyarah dan lamsu dengan makna Jima’ berulang-ulang kali.

Maka dari itu ulama berbeda pendapat dalam menafsiri Aula mastumun Nisa’. Ali Ibnu Abbas Hasan dan Abu Hanifah menafsirinya dengan Jima’.

Oleh karenanya Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh perempuan tidak dapat membatalkan wudhu baik dengan syahwat atau tidak. Dalil yang dikemukakan oleh Abu Hanifah adalah hadis riwayat Aisyah yang mengatakan bahwa nabi pernah mencium istrinya kemudian Shalat tanpa wudhu’.

Sedangkan Ibnu Mas’ud Ibnu Umar dan mazhab Syafi’iyah menafsirinya dengan menyentuh dengan tangan. Oleh karenanya Imam Syafi’i berpendapat bahwa menyentuh perempuan membatalkan wudhu’.

Sedangkan Imam Malik mengatakan menyentuh perempuan tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu namun ketika ada syahwat maka membatalkan wudhu.

Dalil yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i adalah dhahirnya Ayat tersebut. Artinya Imam Syafi’i dengan metodologi tafsir lughawi menafsirkan kata lamsu secara hakikatnya yaitu menyentuh dengan tangan.

Menurutnya hukum asal dalam kalam adalah makn hakikat, seseorang tidak diperbolehkan berpindah ke makna majasnya kecuali makna hakikat tidak bisa digunakan.

Sedangkan lamsu dimaknai dengan jima’ itu adalah makna kinayahnya atau majas. Oleh karenanya makna ini tidak dapat digunakan karena makna hakikatnya masih relevan untuk digunakan.

Pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat tersebut adalah pendapat yang pertama yaitu ditafsiri dengan Jima’. Hal ini karena sesuai dengan hadis Rasulullah yang pernah mengecup sebagian istrinya kemudian Shalat tanpa berwudhu. hadis ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah.

  • فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Ayat ini berada setelah lafadh marad dan safar. Oleh karenanya Ulama’ mengatakan 1) kalimat  فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً ada yang berkaitan dengan safar dan maradl, oleh karenanya maka tayamum hanya di perbolehkan ketika tidak ada air.

Pendapat ini di kemukakan oleh ‘Atho’ dan Hasan.  2) kalimat  فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً hanya berkaitan dengan safar saja, oleh karenanya maka tayamum di perbolehkan baik ada air atau tidak. Pendapat ini di kemukakan oleh jumhur ulama’.

Menurut Mauzu’i pendapat yang pertama adalah pendapat yang jauh dari benar karena pengungkapan kata maradl dalam ayat adalah hal yang sia-sia dan tidak berguna. Karena tayamum ketika tidak ada air adalah boleh bagi orang sehat apa bagi orang sakit.

Hal-hal yang memperbolehkan tayamum dalam ayat tersebut hanya tertentu dalam dua hal, yaitu sakit dan musafir. Meski demikian ayat ini dapat di genalisir ke dalam permasalahan-permasalahan yang lain yang memiliki kesamaan dengan dua hal tersebut dengan metode ilhaq.

Hal ini di dasarkan kepada hadis  yang di riwayatkan dari Jabir RA. Bahwa seorang laki-laki kepalanya terkena batu lalu luka, kemudian ia bermimpi keluar sperma kemudian mandi lalu meninggal. Lalu Rasulullah SAW.. Bersabda:

“Sesungguhnya tayamum cukup baginya,  dan memerban kepalanya dengan kain, lalu mengusap nya kemudian membasuh anggota tubuh yang lain”.

Ulama memperbolehkan tayamum ketika memiliki udzur tidak dapat menggunakan air, baik karena takut ancaman musuh atau hewan buas atau tidak ada alat mengambil air. kondisi -kondisi tersebut adalah hal yang sama dengan kondisi tidak ada air.

Ulama berbeda pendapat ketika seseorang berada di rumah dalam keadaan sehat yang tidak ada air. Menurut Abu Hanifah orang tersebut tidak diperkenankan tayamum ia harus menunggu sampai mendapatkan air.

Pendapatnya ini didasarkan kepada Ayat tersebut yang hanya memperbolehkan tayamum dalam dua hal yaitu sakit dan musafir. Sedangkan menurut Imam Malik dan Syafi’i dan Auza’i, orang tersebut diperbolehkan tayamum.

Namun Imam Syafi’i mewajibkan harus mengulangi Shalat ketika ada air.  Menurut Mauzu’i pendapat yang mewajibkan mengulangi Shalat dan tidak wajib mengulangi Shalat yang kuat adalah pendapat yang tidak wajib mengulangi Shalat.

Hal ini didasarkan kepada hadis:

روى أبو هريرة -رضي الله تعالى عنه-: أن رجلاً قال للنبي – صلى الله عليه وسلم -: إنا نكونُ بأرضِ الرمل، وفينا الجُنُبُ والحائضُ، ونبقى أربعةَ أشهرٍ لا نجدُ الماءَ، فقال النبيُّ – صلى الله عليه وسلم -: “عَلَيْكُمْ بالأَرضِ”

Artinya: Abu Hurairah Ra. Meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW.. Sesungguhnya kita di bumi pasir sedangkan kita dalam keadaan junub dan haid. Kami mengalami tidak ada air selama 4 bulan. Lalu Rasulullah bersabda: kalian dapat menggunakan bumi (tayamum).

Peristiwa ini terjadi ketika seseorang sahabat tersebut berada di rumah dan tidak musafir. Pada hadis tersebut Rasulullah SAW.. tidak memerintahkan untuk mengulangi shalat. Dalam riwayat lain di jelaskan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الصَّعيدُ الطَّيِّبُ وَضوءُ المُسْلِمِ، ولَوْ لَمْ يَجِدِ الماءَ إلى عَشْرِ حِجَجٍ

Artinya:  Rasulullah bersabda debu yang baik adalah wudhu’nya umat Islam walaupun tidak mendapatkan air hingga 10 haji.

Tayamum

Ayat yang menjelaskan tayamum adalah berikut ini:

فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ

Pakar bahasa berbeda pendapat dalam memaknai kata shaid salah. Menurut Sebagian ulama kata shaid bermakna Debu, sebagian yang lain memaknai kata shaid dimaknai dengan bumi baik ada debunya atau tidak.

Sedangkan ulama yang lain memaknai kata shaid dengan bumi yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan dan tanaman. Atas dasar ini ahli fiqih berbeda pendapat dalam menafsiri kata shaid yang sah dibuat tayamum.

Menurut Abu Hanifah diperbolehkan bertayamum menggunakan Debu atau batu atau sesuatu yang ada di bumi walaupun tidak ada debunya. Atas pendapatnya ini Abu Hanifah menggunakan dalil dengan lahirnya ayat yaitu tayamum ditafsiri dengan menuju Sedangkan kata sohib ditafsiri dengan sesuatu yang ada di bumi.

Walaupun pendapatnya Abu Hanifah demikian namun seluruh mazhab Hanafiah tidak semua berpendapat seperti itu. Abu Yusuf murid dari Abu Hanifah mensyaratkan tayamum harus menggunakan Debu atau pasir.

Sedangkan cara bertayamum yaitu mengusap wajah dan tangan permasalahan batasan wajah dan tangan sudah dijelaskan dalam ayat wudhu.

Itulah penafsiran Surah An-Nisa’ Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6 tentang tayamum, semoga dapat memberi manfaat.

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.