Example 728x250
Ulumul Quran

PENGERTIAN MUFASSIR SYARAT SYARAT MUFASSIR DAN ILMU YANG   HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG MUFASSIR

88
×

PENGERTIAN MUFASSIR SYARAT SYARAT MUFASSIR DAN ILMU YANG   HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG MUFASSIR

Share this article
Example 468x60

Penulis: Novi Puspitasari,Mahasiswa IPS 2023 IAIN Ponorogo

Al Qur’an Media – Pengertian Mufassir  Dalam ilmu linguistik, mufassir adalah bentuk istilah Fassara yang berarti menafsirkan atau menjelaskan. Kemudian file waza isim Mufa’id ditambah menjadi Mufassirun yang artinya orang yang menafsirkan, memberi komentar, menafsirkan. Sedangkan istilah Mufasir adalah orang yang mempunyai kekuasaan. sempurna yang dengannya dia mengetahui dengan sebaik-baiknya makna Allah dalam Al-Qur’an. Ia melatih dirinya dengan manhaj mufassiir, mengetahui banyak pendapat tentang penafsiran Kitab Allah.

Sedangkan menurut istilah, Mufassir adalah orang yang memiliki kapabilitas sempurna yang dengannya ia mengetahui maksud Allah ta’ala dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuannya, la melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak pendapat mengenai tafsir Kitâbullah. Selain itu, ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan mengajarkannya atau menuliskannya. Abu Muhammad FH, menjelaskan dalam Kamus Istilah Agama Islam, Mufassir adalah orang yang menerangkan makna ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur an.

1. Syarat Syarat Muffasir

syarat mufassir adalah jalur serta rel sahnya seseorang menafsirkan Al-Qur’an, syarat amat sangat urgen bagi siapa pun yang ingin menafsirkan sebuah ayat apalagi menafsirkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Setiap disiplin ilmu pengetahuan membutuhkan sebuah syarat sebagai penunjang utama dalam langkah menuju objektif.

Syarat Mufassir Peranan kondisi dalam hal ini sangat penting karena Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam. Untuk menjadi seorang mufassir yang diakui, Anda harus memiliki keterampilan di segala bidang. Para ulama telah merumuskan syarat-syarat dasar mufassir.Orang yang mengetahui tafsir Al-Qur’an hanyalah orang-orang yang mengetahui tafsir (ilmu Al-Qur’an), sedangkan orang yang tidak memahaminya banyak. ayat dan tata cara menafsirkan Al-Qur’an dan bagi yang tidak mendalami ilmu tafsir tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an, karena kitab suci tidak ditafsirkan hanya menurut keinginan penafsir saja, sehingga tidak termasuk dalam hukum tafsir.

Syarat-Syarat Seorang mufassir adalah:

  1. Mengetahui pengetahuan tentang bahasa Arab dan kaidah kebahasaan (tata bahasa, sintaksis, etimologi dan morfologi) , retorika (ilmu ma’an, ilmu bayan dan ilmu badi), ilmu ushul fgh (Khas, Am. Mujmal dan mufasshal).Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap bahasa Al-Qur’an, besar kemungkinan para mufassir akan menjadikan penyimpangan dan salah tafsir.
  2. Mengetahui ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan menemukan teori-teori baru\teori-teori baru yang terkandung dalam Al-Qur’an.
  3. Mengetahui hadits Nabi dan segala aspeknya yang berbeda. Karena hadis itulah yang menjadi penjelasan Al-Qur’an, misal. penjelasan surah al-Nahl 44.5.
  4. Memiliki Kondisi Psikis Dan Mental Yang Kuat Serta Akademik Yang Baik.

2. Ilmu yang harus dimiliki seorang muffasir:

Dalam kitabnya “al-Itqan” ia menyebutkan beberapa informasi yang diperlukan untuk penafsiran Al-Qur’an, yaitu:

  1. Keterampilan berbahasa
  2. Ilmu Nahwu (Mengenal Kalimat Arab)
  3. Ilmu Sharaf (Mengenal Bentuk Kalimat Arab)
  4. Ilmu Isytiqaq (Merubah Kata Dengan Artian Yang Sama)
  5. Ilmu Balaghah (retorika, metafora).
  6. Ilmu Qiraat (Cara Membaca Al-Qur’an) .
  7. Ilmu Ushul Fiqh(Hukum Hukum Al-Qur’an) .
  8. Ilmu ma’ani, dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui karakteristik susunan sebuah ungkapan yang dilihat dari makna yang dihasilkannya
  9. Ilmu bayan, seorang mufassir dapat mengetahui karakteristik susunan sebuah ungkapan dilihat dari perbedaan-perbedaan maksudnya
  10. Ilmu badi, untuk mengetahui sisi-sisi keindahan dari suatu kalimat atau ungkapan
  11. Ilmu qiraat, dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui cara- cara melafadzkan al-Qur’an.
  12. Ilmu ushuluddin. Denganilmuini mufassir dapat mengetahui tentang apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah. Dengan illmu ushuluddin diharapkan para mufassir akan dapat melakukan. penafsiran yang sejalan dengan hakikat permasalahan.
  13. Ilmuu shulfigh, ilmu in iuntuk mempelajari cara pengambilan dalil- dalil hokum dan perumusan dalil hokum.
  14. Ilmu asbab al-nuzul, untuk mengetahui latar belakang turunnya suatu ayat dan nantinya mufassir dapat mengkontekskan dengan keadaan saat ini.
  15. Ilmu nasikhmansukh, dengan ilmu ini mufassir dapat mengetahui manahadis yang dating lebih awal dan dating akhir. Sehingga mengetahui ayat-ayat yang muhkam daripada ayat lainnya.
  16. Ilmu figh Hadis-hadis yang dapat menjelaskan ayat-ayat yang mujmal dan mubham
  17. Ilmu al-Mauhibah yaitu sebuah ilmu yang dianugerahkan Allah keapada siapa saja yang mengamalkan ilmunya, ilmu ini buah dari takwa dan keikhlasan.[3]

KESIMPULAN

Seorang yang hendak melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat dan adab yang telah disepakati oleh para ulama setelah nabi wafat. Persyaratan tersebut baik yang bersifat fisik dan psikis serta akademik Persyaratan fisik dan psikis berupa harus seorang yang sudahdewasa. (baligh) dan berakal sehat serta harus seorang yang muslim. Seorang mufassir juga harus mempunyai etika yang mulia dan patut diteladani Etika yang mulia tersebut yang akan membawa uma tmanusia tidak ragu akan ketetapan yang dihasilkan seorang mufassir.

Seorang yang hendak melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat dan adab yang telah disepakati oleh para ulama setelah nabi wafat. Persyaratan tersebut baik yang bersifat fisik dan psikis serta akademik. Persyaratan fisik dan psikis berupa harus seorang yang sudahdewasa (baligh) dan berakal sehat serta harus seorang yang muslim. Persyaratanak ademik yaitu dengan menguasai beragam ilmu yang baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan denga nulumul Qur’an. Kelengkapan ilmu yang harus dimiliki mufassir pada dasranya lahir karena tuntunan al-Qur’an sendiri yang isinya meliputis emuapersoalan atau bidang hidup dan kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

No.12, 2007 Jurnal Mutawatir: Keilmuan Tafsir Hadis, Vol.1, No.2 Desember 2011. Kaidah Kualifikasi Intelektual Mufasir Dan Urgensinya.

Ushama, Thameem, terj. Hasan Basri dan Amroeni, Metodologi Tafsir Al- Qur’an, Jakarta: Riora Cipta, 2000 al-Zarkashi, Badr Al-Din Muhammad Abd Allah, al- Burhân i Ulüm alQur’an, Mesir: al-Halabi, 1957.

No.12, 2007 Jurnal Mutawatir: Keilmuan Tafsir Hadis, Vol.1, No.2 Desember 2011. Kaidah Kualifikasi Intelektual Mufasir Dan Urgensinya,

No.12, 2007 Jurnal Mutawatir: Keilmuan Tafsir Hadis, Vol.1, No.2 Desember 2011. Kaidah Kualifikasi Intelektual Mufasir Dan Urgensinya,

Ushama, Thameem, terj. Hasan Basri dan Amroeni, Metodologi Tafsir Al- Qur’an, Jakarta: Riora Cipta, 2000 al-Zarkashi, Badr Al-Din Muhammad Abd Allah, al- Burhân i Ulüm alQur’an, Mesir: al-Halabi, 1957

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.