Example 728x250
Ulumul Quran

PENGERTIAN TAKHSIS

68
×

PENGERTIAN TAKHSIS

Share this article
Example 468x60

Penulis: Binti Sheila Ulinnuha, Mahasiswa IPS 2023 IAIN Ponorogo

Al-Qur’an Media – Al-Quran sebagai sumber hukum yang sempurna merupakan suatu nama plilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada bacaan yang lebih indah yang mampu menandinginya. Tiada pula yang lebih sakral darinya. Dan tiada pula yang lebih sempurna kandunganya dari pada Al-Quran. Seolah telah menjadi kultus umat Islam dalam setiap jengkal kehidupannya. Sumber yang tak pernah kering digali dalam rangka menuai solusi berbagai hal, yang terus mengalir untuk memupus kegersangan alam. Alam yang cenderung berubah dalam setiap detiknya.

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, baik huruf, lafaz\, bentuk kalimat, kemukjizatan, dan kandungan makna yang tersurat maupun tersirat. Menelurkan berbagai disiplin ilmu, menyingkap rahasia, mengulas sejarah, serta menetapkan dan menawarkan bentuk- bentuk hukum. Dengan demikian tidak semua ayat Al-Quran menjelaskan secara transparan semua kandungan yang dimuatnya. Sebagaimana firman Allah:

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur‟an) kepada kamu, diantara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok- pokok isi Al-Qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat, adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta‟wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta‟winya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, selama itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak mengambil pelajaran dari (padanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Khos dan Takhsis

Khos adalah bentuk asal dari kata kerja , yang secara bahasa adalah tertentu atau khusus. Dan secara istilah adalah lafaz yang tidak dapat menerima dua arti ataupun lebih, sehingga makna yang dimaksud dari lafaz khos ini, merupakan makna yang sudah tertentu yang diambil dari makna yang umum. Atau bias dikatakan bahwa lafaz khos adalah lafazyang tidak bias memperoleh dua makna atau lebih dengan tanpa membatasi makna lafaz itu sendiri.

Takhsis adalah bentuk masdar dari Khossoso yang bermakna Khos yang secara etimologi adalah menentukan atau mengkhususkan. Dan secara terminology adalah memperpendek makna atau hukumnya lafaz „aam pada sebagian satuanya. Dengan gambaran bahwa fungsi takhsis adalah menentukan makna lafaz aam ditetapkan menjadi hukum. Juga perlu jadi catatan, untuk lafaz yang ditakhsis (dikhususkan) dalam hakikatnya bukan lafaznya, namun makna yang timbul dari lafaz aam tersebut. Yang secara majas antara lafaz yang ditakhsis adalah lafaz aammasih berhubungan dalam penetapan hukum.

Bentuk Takhsis (Mukhassis)

Mukhassis diartikan sebagai lafaz yang dapat memberikan faedah takhsis, adalah konotasi lain dari takhsis, dibagi menjadi Dua:

Mukhassis Muttasil

Yaitu lafaz yang tak dapat bediri sendiri memberikan faedah dengan sendirinya kecuali bersamaan dengan lafaz aam. Dan ini dibagi jadi Lima bentuk:

  • Istitsna‟ bi nafsih Yaitu mengecualikan lafaz „aam dengan menggunakan adat-alat istitsna.
  • Syarat bi Nafsih Yaitu lafaz yang dapat berfaedah apabila bersambung dengan lafaz yang lain, dan harus ada jawab yang kembali kepada zatnya lafaz yang menjadi syarat. Terjemahnya: Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscayaakan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.
  • Na‟at atau Sifat Yaitu lafaz yang mengikuti menjadi sifat, dan menjelaskan terhadap lafaz yang dikuti. Contoh: (Ghoyah) Yaitu lafaz yang menjadi akhir (penghabisan) dari lafaz aam yang mendahuluinya, dan lafaz tersebut masuk dalam kandungan lafaz aam sebagai tolok ukur dari makna yang dikandung lafaz aam itu.

Terjemahnya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasulnya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agama Allah), yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab

  • Badalul ba‟di minal 

Yaitu lafaz\ pengganti yang mengandung arti sebagian dari bentuk lafaz\ yang mempunyai arti umum. Terjemahnya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Mukhassis Munfashil

Mukhassis Munfashil Adalah lafa yang dapat berdiri sendirimemberikan faedah dengan sendirinya, baik lafaznya itu sendirian atau bersamaan dengan yang lainnya. Namun harus tetap dipaham bahwa kata Mukhassis adalah bentuk kata benda yang menunjukkan pelaku pekerjaan, sedangkan kata taksis adalah bentuk pekerjaannya, sehingga di antara keduanya mempunyai hakekat makna yang sama. Hal ini disampaikan agar dimengerti bahwa mukhasis muttashil bisa disebut “takhsis muttashil”, dan Mukhassis munfashil bisa disebut takhshis munfashil.

Takhassis Munfashil dibagi menjadi beberapa bagian:

  • Takhsis Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an Terjemahnya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
  • Takhsis Al-Qur‟an dengan As-Sunah Terjemahnya: Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. 

Di-takhsis dengan Sabda Nabi:

Artinya: Orang Islam tidak diperbolehkan mewarisi (hartanya) orang kafir, dan orang kafir tidak pula diperbolehkan mewarisi orang Islam.

  • Takhsis As-Sunah dengan Al-Qur‟an.

Contoh:

Artinya: “Tidaklah diterima shalat kalian apabila dalam keadaan hadats sehingga (kamu mengambil air untuk) berwudlu‟.

Di-takhsis dengan Terjemahnya: Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang suci.

Takhsis As-Sunah dengan As-Sunah.

Artinya: Terhadap apa-apa yang dihasilkan oleh siraman air hujan, maka (zakatnya) diambil seper sepuluh.

Di-takhsis dengan:

Artinya: Abu Abdillah berkata: ini adalah penafsiranpertama ketika Nabi bersabda” tidak (wajib) shadaqah apabila kurang dari lima ausuq (takar).

Takhsis Al-Qur‟an dengan terjemahnya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Kemudian di-takhsis dengan qiyas, yaitu bahwa untuk Ammat hanya dipukul 50 kali. Dan kata Abd juga diqiyaskan dengan lafaz amah.

  • Takhsis As-Sunah dengan Qiyas

Contoh:

Artinya: Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Barang siapa mengganti (murtad dari) agamanya, maka bunuhlah ia.

Takhsis dari hadits tersebut adalah bagi orang murtad.Dan

contoh lain:

Artinya: Maka Rasulullah melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.

Takhsis dari hadits tersebut adalah wanita selain kafir harbi dan wanita murtad.

  • Takhsis dengan mafhum Muwafaqah

Terjemahnya: Maka sekali-kali janganlah kamu membentak kepada keduanya (dengan) perkataan “ah” (cih), dan janganlah kamu membantah mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yangmulia.

Bahwa arti uffin dan tanhar ayat di atas adalah mengumpat dan membentak. Maka mafhum muwafaqah dari kedua lafaz tersebut adalah segala hal yang menyakitkan hati. h). Takhsis dengan Mafhum Mukhalafah.Contoh:

Artinya: Apabila air sudah sampai dua qolah, maka tidak ada sesuatu yang dapat menjadikannya najis. Di-takhsis dengan mafhumnya hadits Ibnu Majjah yang lainnya, yaitu:

Artinya: Sesungguhnya air itu tidak menjadi najis karena adanya sesuatu, kecuali perkara tersebut dapat merubah bau, rasa dan warnanya.

Perbedaan antara aam dan Mutlaq adalah, bahwa aam merupakan lafaz\ yang masih mempunyai arti yang luas, sehingga dalam memberikan arti harus sesuai dengan peryataan/kebutuhan kalimat yang ada. Karena pada lafaz\ aam maksud yang terkandung tidak mesti sesuai dengan arti bahasanya. Sedangkan bahasan dari Mutlaq adalah terhadap hukum suatu lafaz\ yang global, tetapi hukum dari lafaz\ tersebut merupakan hukum yang sudah pasti.

Sebagai fitrah manusia yang tidak luput dari salah dan dosa, segala hal yang menjadi kajian analisis konsepsional terhadap bahasan ini dapat dikoreksi untuk mencari kebenaran dan kesesuaiannya dengan berbagai pendapat, maka semua duri yang bias menjadi api dari tulisan ini dapat menjadi kritik untuk menemukan kesejukan dalam membangun wawasan ilmiah yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Al-Dali, Muhammad bin Ahmad bin Abd Al-Baari, Al- Kawaakibu Al-Dariyyah: Syarah Mutammimah Al- Ajrumiyah, Karya Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Sonhaji atau Ibnu Ajrum, Surabaya: Hidayah, Juz I, (tt.)

Al-Dimyathi, Ahmad bin Muhammad, Al-Dimyathi: Hasyiyah Al- Waraqat fii Ushul Al-Fiqh, karya Imam Jalaluddin Al- Mahali, Syarah Waraqat, karya Abu Al-Maali

Abd Al-Malik bin Yusuf bin Muhammad Al-Juwani Al-Iraqi Al- SyafiI, Surabaya: Sahabat Ilmu, (tt.)

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.