Example 728x250
Ilmu Tafsir

QOSAM DALAM AL-QURAN

50
×

QOSAM DALAM AL-QURAN

Share this article
QOSAM DALAM AL-QURAN
QOSAM DALAM AL-QURAN
Example 468x60

Al-Quran Media –  Kalimat sumpah sangat sering kita jumpai dalam keseharian dalam masyarakat. Ternyata kalimat sumpah juga banyak sekali  di temukan dalam Al-Quran, begitu juga kalimat-kalimat qasam.

Yang menarik pada pembahasan qasam dalam Al-Quran adalah  qasam (sumpah) tersebut di ungkapkan oleh Tuhan, dan itu jumlahnya banyak. Hal ini tentu menggelitik para pemerhati dan pecinta Al-Quran untuk mencari tahu mengapa Tuhan perlu mengungkapkan sumpah sedangkan Tuhan sendiri itu tidak mungkin salah dan tidak mungkin membohongi. Dari sini muncullah penelitian qasam dalam Al-Quran.

Definisi Qosam

Qosam secara bahasa adalah berasal dari bahasa arab qasama yaqsimu qasm, yang berarti sumpah. Selain qasam kata lain yang berarti sumpah adalah yamin, kata ini juga di gunakan mengungkapkan sumpah.

Secara istilah definisi qasam menurut Kazhim Fatih al-Rawi, adalah sesuatu yang dikemukakan untuk menguatkan sesuatu yang dikehendaki oleh yang bersumpah, baik untuk memastikan atau mengingkari sesuatu.

Sedangkan menurut Ibnu Qayim, qasam  adalah ungkapan yang diberikan untuk penegasan dan penguatan informasi jika itu disertai dengan kesaksian (syahādah). Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan qasam yaitu ungkapan yang di ungkapkan untuk menguatkan sebuah ungkapan.

Sedangkan qasam dalam Al-Quran adalah kalimat-kalimat sumpah yang ada dalam Al-Quran yang di ungkapkan untuk  tujuan-tujuan tertentu.

Unsur-Unsur dalam Qasam

Unsur-unsur qasam Al-Quran ada tiga yaitu:

1.    Adat Qasam : Kata Sumpah

Adat qasam adalah kata menunjukkan makna sumpah. Kata ini dapat terdiri huruf dan fi’il yang bermakna sumpah sebagaimana pembahasan berikut ini:

Pertama, adalah qasam yang menggunakan huruf qasam. Huruf qasam ini memiliki makna sumpah walaupun itu hanya huruf. Huruf qasam  tersebut ada tiga, yaitu wawu (وَ), ba’ (بِ), ta’ (تَ). Dari ketiga huruf qasam tersebut Al-Quran juga menggunakan ketiga-tiganya. Misalnya:

1. Qasam dengan huruf wawu (وَ):

وَالضُّحٰىۙ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ

Artinya: “Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” (QS. Ad-Dhuha: 1-3)

 

2 Qasam dengan huruf ba’ (بِ):

وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ لَىِٕنْ جَاۤءَتْهُمْ اٰيَةٌ لَّيُؤْمِنُنَّ بِهَاۗ

Artinya: “Mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sebenar-benarnya sumpah (bahwa) sungguh jika datang suatu bukti (mukjizat) kepada mereka, pastilah mereka akan beriman kepadanya.” (QS. Al-‘An’am: 109)

3. Qasam dengan huruf ba’ ta’ (تَ):

وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ

Artinya: “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” (Al-Anbiya’: 57).

Kedua, adalah qasam yang menggunakan kalimat fi’il. Kalimat fi’il yang memiliki makna sumpah yaitu kalimat berasal kata qasama dan khalafa. Dari kedua kata qasam tersebut cuma kata qasama yang memiliki konotasi positif sedangkan khalafa memiliki konotasi negatif. Misalnya kata khalafah yang di gunakan oleh kaum munafik untuk membenarkan perilakunya, mereka bersumpah dengan menggunakan kata khalafa (QS. Al-Taubah: 62). Berbeda dengan kata yang berakar dari kata qasama, qasam yang berakar dari kata ini kebanyakan memiliki konotasi positif. Contoh:

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

Artinya: “Aku bersumpah dengan hari Kiamat” (QS. Al-Qiyamah: 1)

يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ لِيُرْضُوْكُمْ

Artinya: “Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu.” (QS. al-Taubah: 62)

2.  Muqsam bih : Sesuatu yang di Buat Sumpah

Muqsam bih adalah hal-hal yang dijadikan untuk bersumpah. Sesuai fungsi sumpah, yaitu sebagai penguat, memastikan perkataannya tidak bohong, maka muqsam bih harus berupa sesuatu yang besar dan di agung-agungkan. Karena sejatinya sumpah itu sendiri adalah jaminan atas kebenaran pernyataannya. Misalnya dalam percakapan keseharian masyarakat sering kita temukan seseorang bersumpah “demi Tuhan, demi gunung, demi bapak dan lain semacamnya. Hal itu merupakan sesuatu yang besar dan agung. Sedangkan dalam Al-Quran sesuatu yang dijadikan sumpah (muqsam bih) adalah yaitu Tuhan (Allah) dan hal-hal yang besar lainnya misalnya, Al-Quran, malaikat, hari kiamat, bumi, gunung, malam, siang dan lainnya. Contoh:

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

Artinya: “Aku bersumpah dengan hari Kiamat” (QS. Al-Qiyamah: 1)

وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّا

Artinya: “Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf..” (QS. As-Shaffat: 1)

3. Muqsam ‘alaih: Tujuan Sumpah

Muqsam ‘alaih adalah pernyataan yang di kuatkan dengan sumpah. Artinya seseorang bersumpah tujuannya bertujuan adalah ingin membenarkan sebuah pernyataannya ini. Muqsam alaih ini menjadi faktor lahirnya sumpah karena tidak mungkin bersumpah tanpa tujuan tersebut. Dalam struktut kalimatnya muqsam alaih berada setelah qasam.

Muqsam alaih dalam Al-Quran memiliki dua macam kategori:

Pertama, yaitu muqsam alaih yang memiliki konotasi positif dan sangat signifikan karena menyangkut kebenaran agama sehingga Allah meneguhkannya dengan sumpah. Muqsam alaih semacam ini kebanyakan di ungkapkan dengan kata yang akar dari kata qasam dan huruf sumpah. Muqsam alaih yang menjadi tujuan  Allah dalam bersumpah adalah sebagai berikut ini:

1. Meneguhkan kebenaran Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya ayat:

وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ

Artinya: “Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh, demi (rombongan) yang membacakan peringatan, sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.” (QS. As-Shaffat: 1-4)

2. Meneguhkan kebenaran Nabi Muhammad SAW. sebagai Utusan Allah. Misalnya:

يٰسۤ ۚ وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

Artinya: “Yasin, Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,  sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul.” (QS. Yasin: 1-3)

3. Meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW.:

وَالضُّحٰىۙ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ

Artinya: “Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” (QS. Ad-Dhuha: 1-3)

4. Meneguhkan kemuliaan Al-Quran:

 فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ وَاِنَّه لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ اِنَّه لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ

Artinya: “Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, (QS. Al-Waqi’ah: 75-77)

5. Meneguhkan kebenaran janji-janji Allah:

وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ فَالْحٰمِلٰتِ وِقْرًاۙ فَالْجٰرِيٰتِ يُسْرًاۙ فَالْمُقَسِّمٰتِ اَمْرًاۙ اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَصَادِقٌۙ وَّاِنَّ الدِّيْنَ لَوَاقِعٌۗ

Artinya: “Demi (angin) yang menerbangkan debu, dan awan yang mengandung (hujan), dan (kapal-kapal) yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sungguh, (hari) pembalasan pasti terjadi.” (QS. Al-Dzariyat: 1-6)

6. Sumpah yang menegaskan Allah Maha kuasa:

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَه ۗ بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَه

Artinya: “Aku bersumpah dengan hari Kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 1-4)

7. Sumpah yang menjelaskan perilaku manusia yang berbeda-beda:

وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓ ۙ اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ

Artinya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, demi penciptaan laki-laki dan perempuan, sungguh, usahamu memang beraneka macam. ” (QS. Al-Lail: 1-4)

Kedua, yaitu muqsam alaih yang memiliki konotasi negatif. Artinya qasam dalam Al-Quran juga memiliki tujuan negatif, qosam seperti ini kebanyakan di ungkpakan dengan kata yang  berakar dari khalafa dan di ungkapkan oleh kaum kafir dan munafik. Qasam semacam ini di ungkapkan dalam Al-Quran tujuannya untuk memberi informasi dan kisah. Misalnya:

kata khalafah yang di gunakan oleh kaum munafik untuk membenarkan perilakunya, mereka bersumpah dengan menggunakan kata khalafa sebagaimana dalam ayat berikut ini:

يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ لِيُرْضُوْكُمْ وَاللّٰهُ وَرَسُوْلُهٓ اَحَقُّ اَنْ يُّرْضُوْهُ اِنْ كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka mencari keridaan-Nya jika mereka orang mukmin.” (QS. al-Taubah: 62)

Misalnya lagi, kata khalafa di gunakan untuk bersumpah bohong sebagaimana dalam ayat berikut ini:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْۗ مَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْۙ وَيَحْلِفُوْنَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya. .” (QS. Al-Mujadalah: 14)

Refrensi:

1. Al-Qatthan, Manna Khalil. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Translated by Aunur Rafiq. Bogor: Pustaka Al-Kautsar, 2005.
2. Shanhaji. Al-Ajrumiyah. Surabaya: Al-Hidayah, 2005.

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.