Example 728x250
Keislaman

Rukun Qiyas dan Syarat-Syaratnya

120
×

Rukun Qiyas dan Syarat-Syaratnya

Share this article
Rukun Qiyas dan Syarat-Syaratnya
Rukun Qiyas dan Syarat-Syaratnya
Example 468x60

Al-Quran Media – Rukun qiyas adalah bagian-bagian yang harus ada ketika seseorang menggqiyaskan. Keberadaan rukun qiyas merupakan yang penting yyang tidak boleh di tinggalkan.

Apa itu  Qiyas

Qiyas sederhananya dapat di katakan sebagai menganalogikan suatu masalah dengan sesuatu yang sudah di jelaskan dalam Al-Quran dan hadis.

Qiyas adalah metode penggalian hukum dalam hukum Islam. Qiyas ini di gunakan sebagai metode dalam merumuskan hukum Islam jika hukum  Al-Quran dan hadis  sudah tidak di temukan.

Dengan demikian maka qiyas  di jadikan metode alternatif dalam merumuskan hukum. Dalam merumuskan hukum dengan menggukan metode ini memiliki ketentuan-ketentuan yang di penuhi agar dalam menetapkan hukum bisa di lakukan dengan benar dan sah.

Rukun – Rukun Qiyas

Rukun qiyas adalah hal-hal yang harus di penuhi agar qiyas dapat  mengeluarkan hukum. Rukun-rukun tersebut terdapat empat, sebagaimana penjelasan berikut ini:

1. Ashl

Ashl adalah permasalahan yang sudah ada hukum melalui Al-Qur’an , hadis atau ijma’. Hal inilah yang di jadikan tempat mengqiyaskan hukum.

2. Hukum Ashl

Hukum ashl adalah hukum yang di miliki oleh ashl yang penetapannya tidak melalui qiyas, tetapi penetapannya melalui Al-Qur’an , hadis atau ijma’. Syarat dari hukumnya yaitu sama dengan ‘illat, artinya jika ‘illat wujud maka hukumnya pun harus wujud, tetap jika ‘illatnya tidak berlaku maka hukumnya pun tidak berlaku.

3. Far’

Far  adalah permasalahan-permasalahan yang belum ada hukumnya. Syarat far’ harus memiliki kesamaan dengan ashl. Dalam teori mafhum, ‘illat yang terdapat dalam far’ di haruskan minimal sama kadarnya (mafhum muwafaqah), atau dapat juga ‘illatnya lebih tinggi (fakhwal khithab).

4. ‘Illat

‘Illat adalah sesuatu yang menjadi alasan wujudnya hukum dalam ashl serta dapat menetapkan hukum pada far’.

Syarat-Syarat ‘illat

Syarat dari ‘illat ini adalah :

Pertama, Wujudnya ‘illat menjadi faktor wujudnya hukum, misalnya ‘illat khamr yang memabukkan menjadi sebab hukum keharaman khamr;

Kedua, Tidak terjadi pertentangan antar far’ dan ashl dalam sifat dan maknanya. Jika terjadi kontradiksi dalam lafadh atau makna-nya maka tidak dapat di berlakukan qiyas.

Pertentangan dalam lafadhnya maksudnya adalah sifat-sifat antara far’ dan ashl sama, tetapi hukumnya tidak berlaku.  Misalnya orang membunuh anaknya, hal ini tidak dapat di qiyaskan dengan pembunuhan penganiayaan yang di sengaja (qatlu ‘amdin ‘udwanan).

Walaupun keduanya memiliki sifat yang sama yaitu membunuh, tetapi dalam kasus pembunuhan orang tua terhadap anaknya tidak memiliki tujuan penganiayaan, bisa saja membunuhnya karena faktor yang lain seperti takut kelaparan, anak nakal dan lain semacamnya.

Oleh karena itu membunuhnya orang tua terhadap anaknya tidak dapat di qiyaskan kepada qatlu ‘amdin ‘udwanan (pembunuhan penganiayaan yang di sengaja). Maksud dari pertentangan maknanya adalah makna yang ada dalam far’ sama dengan ashl, tetapi hukumnya tidak berlaku.

Misalnya harta shabi dalam permasalahan zakat. Harta shabi dalam hal ini tidak dapat di qiyaskan dengan harta orang baligh, walaupun memiliki ‘illat yang sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan faqir miskin, tetapi shabi belum berlaku hukum taklif karena tidak memenuhi syarat taklif yaitu baligh.

Syarat ‘illat menurut Abdul Wahab Khalaf terdapat empat, yaitu:

  1. ‘Illat harus memiliki sifat yang dhahir yang dapat di rasakan oleh panca indra yang dhahir. Misalnya ‘illatnya khamr adalah memabukkan. Mabuk adalah suatu yang dhahir yang dapat di ketahui oleh seseorang. Berbeda dengan ‘illat yang tidak dhahir maka tidak sah untuk di jadikan ‘illat. Misalnya ‘illat hilangnya akal dalam ‘illat keharaman khamr, maka hilangnya akal tidak sah di jadikan sebagai ‘illat dalam khamr, karena hilangnya akal adalah hal samar yang tidak dapat di ketahui oleh seseorang.
  2. ‘Illat dapat di beri batasan dengan sifat-sifat yang jelas. Misalnya ‘illat dalam mengqoshor shalat adalah safar (jarak perjalanannya) bukan capeknya. Karena perjalanan dapat di batasan-batasan tertentu, berbeda dengan capek maka capek tidak dapat di beri batasan.
  3. ‘Illat dalam far’ memiliki kesamaan dengan ‘illat dalam ashal.
  4. Yang terakhir ‘illat tidak hanya berada dalam ashal, tetapi ‘illat juga dapat berada dalam permasalahan-permasalahan lain sebagaimana contoh-contoh di atas.

Itulah penjelasan tentang  rukun qiyas semoga bermanfaat.

Baca juga:

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.