Example 728x250
Keislaman

Sumber Hukum Islam yang di Sepakati

221
×

Sumber Hukum Islam yang di Sepakati

Share this article
4 Sumber Hukum Islam yang di Sepakati
4 Sumber Hukum Islam yang di Sepakati
Example 468x60

Al-Quran Media – Sumber hukum islam adalah dalil-dalil yang di jadikan sumber dalam menetapkan hukum Islam. Dalam hal ini terdapat beberapa sumber hukum Islam yang di klasifikasi menjadi dua yaitu dalil naqli dan dalil ‘aqli. Dalil naqli yaitu Al-Quran dan hadis.

Sedangkan dalil ‘aqli adalah ijma’, qiyas, maslahah mursalah, istishab, ‘urf dan istihsan. Dari dalil naqli dan ‘aqli ini di klasifikasi menjadi dua dalil-dalil yang di sepakati dan  dalil-dalil yang masih di perselisihkan.

Sumber Hukum Islam yang di Sepakati

Penulis di sini akan membahas sumber hukum syari’at yang di sepakati sebagaimana pembahasan berikut ini:

Pertama Al-Quran

Al-Quran pada umumnya di definisikan sebagai firman Allah SWT. yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang di anggap ibadah ketika membacanya. Menurut Imam Ghazali, ketika mujtahid mencari hukum dalam Al-Quran maka ia harus mencarinya sampai ia sudah merasa tidak mampu menemukan, ketika itu baru ia boleh pindah ke sumber hukum lainnya.

Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang masih orsinil (asli) dari Allah yang ada pada saat ini, di dalamnya tanpa ada perubahan sedikit pun.  Berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, kitab-kitab suci selain Al-Quran sudah banyak mengalami perubahan.

Contoh misalnya zina, zina hukumnya haram. Sumber hukum zina ini bersumber dari Al-Quran:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Dalil kehujjahan Al-Quran ialah Al-Quran di turunkan sebagai kitab petunjuk yang menjelaskan segala sesuatu bagi manusia serta manusia wajib mengamalkan ajarannya sebagaimana firman Allah:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ ࣖ

Artinya:  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” (QS. An-Nahl: 89)

Selain ayat tersebut masih banyak ayat lain menjelaskan kehujjahan Al-Quran.

Kedua Hadis

Hadis adalah dalil kedua setelah Al-Quran. Artinya ketika umat Islam mencari suatu hukum maka pertama kali ia mencarinya dalam Al-Quran. Jika tidak menemukan maka ia baru mencari dalam hadis.

Hadis menurut ulama ushul adalah sabda, perbuatan, dan taqrir Rasulullah SAW. setelah di utus Allah menjadi utusan Allah. Dari definisi maka sabda dan perbuatan Rasulullah sebelum di angkat menjadi nabi tidak di sebut hadis.

Hadis memiliki banyak macam-macamnya, yaitu: Pertama hadis shahih. Hadis shahih adalah hadis yang sanadnya muttashil (nyambung) hingga Nabi Muhammad SAW. di riwayatkan oleh rawi yang adil, dhabith (memiliki hafalan yang kuat) serta tidak syadz dan tidak kemasukan illat.

Kedua hadis hasan. Definisi hadis hasan sama dengan hadis shahih tetapi kualitas ke-dhabithannya di bawah ke-dhabithannya hadis shahih.

Ketiga hadis dha’if. Hadis dhaif adalah hadis yang tidak dapat memenuhi kriteria hadis shahih. Faktornya bisa saja sanadnya tidak muttashil, atau rawinya tidak adil, atau kemasukan illat atau syadz.

Keempat hadis maudhu’. Hadis maudhu’ bahasa lainnya adalah hadis palsu. Hadis palsu adalah hadis yang di buat-buat oleh manusia dan di sandarkan kepada Rasulullah SAW.

Dari empat macam hadis di atas cuma hadis shahih dan hadis hasan yang di dapat jadikan dalil hukum. Hadis dhai’f dan hadis maudhu’ tidak dapat di jadikan hukum.

Hadis dha’if dan hadis maudhu’ tidak dapat di jadikan dalil hukum karena hadis tersebut bukan sabda, perbuatan atau taqrir Rasulullah SAW. karena tidak memiliki sanad yang sambung kepada Rasulullah atau karena faktor lainnya.

Semua ulama’ sepakat bahwa hadis dalil yang harus di jadikan sebagai sumber hukum Islam. Dalil-dalil tentang kehujjahan hadis sebagai sumber hukum Islam banyak sekali, di antaranya:

1. Karena Allah memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah ketika terjadi perselisihan sebagaimana di jelaskan Al-Quran:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Argumentasi mengapa harus mengikuti Rasulullah karena Nabi Muhammad adalah utasan Allah yang di beri sifat maksum, terhindar dari  kesalahan dan tidak mungkin salah.

2. Taat kepada Rasulullah sama dengan taat kepada Allah sebagaimana firman Allah:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ

Artinya: “ Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

3. Karena hadis dan Al-Quran memiliki kesamaan, yaitu sama-sama wahyu dari Allah. Perbedaannya, jika Al-Quran lafdhan wa ma’nan minallah (lafadh dan maknanya dari Allah) sedangkan hadis cuma maknanya saja yang dari Allah dan lafadhnya dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini di firmankan Allah SWT.:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

Artinya: “Tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya, Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Ayat ini menjelaskan apa yang di sabdakan Rasulullah tidak berasal dari hawa nafsu beliau tetapi  berasal dari wahyu. Dengan demikian maka hukum yang di dasar dari hadis sama dengan hukum yang di dasarkan dari Al-Quran dan semuanya sama-sama dari wahyu.

4. Legalitas Allah kepada Nabi Muhammad untuk menjelaskan hukum-hukum yang ada dalam Al-Quran dengan lebih detail. Hukum-hukum dalam Al-Quran tidak mungkin sempurna tanpa penjelasan dari hadis Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian maka hadis sudah menjadi kebutuhan pokok dalam menjelaskan syari’at karena Al-Quran banyak yang sifat umum yang butuh penjelasan dari hadis Rasulullah sebagai Nabi dan penerima wahyu.

Baca juga: 

Ketiga Ijma’

Sumber hukum islam yang ketiga yaitu ijma’. Ijma’ adalah kesepakatan seluruh mujtahid pada masanya setelah wafatnya Rasulullah Saw. Ijma’ ada dua yaitu ijma’ sharih dan ijma’ sukuti. Ijma’ sharih ialah ijma’ yang mana semua mujtahid menyepakatinya.

Sedangkan ijma’ sukuti adalah ijma’ yang disepakat oleh sebagian mujtahid dan yang lainnya diam tetapi juga tidak mengingkari.

Dalam ijma’ sharih semua ulama’ sepakat bahwa ijma’ sharih ini dapat di jadikan sebagai hujah dan dalil sumber hukum Syari’at. Berbeda dengan  ijma’ sukuti,  ulama’  masih khilaf, menurut Syafi’iyah dan Dhahiriyah ijma’ sukuti tidak dapat jadikan sebagai hujjah.

Sedangkan Hanafiyah, Malikiyah dan Ahmad mengatakan ijma’ sukuti dapat di jadikan sebagai hujah. Dalam hal ijma’  ini penulis tidak akan panjang  dalam menjelaskannya, karena ada pembahasan sendiri pada babnya.

Keempat Qiyas 

Sumber hukum islam yang keempat ialah qiyas.  Qiyas secara bahasa berarti takaran, kadar, dimensi, ukuran, format, timbangan. Menurut istilah Ahli ushul fiqih qiyas adalah menyamakan hukum permasalahan di masyarakat yang belum ada hukumnya dalam nash (Al-Qur’an  dan hadis) dengan sesuatu yang sudah ada hukumnya dalam nash (Al-Qur’an  dan hadis) karena memiliki kesamaan ‘illat antara keduanya.

Contoh qiyas misalnya narkoba, minuman keras, alkohol dan setiap perkara yang memabukkan lainnya di qiyaskan dengan keharaman khamr dalam Al-Qur’an  QS. Al-Maidah: 90:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (QS. Al-Maidah: 90)

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa qiyas dapat di jadikan hujah dalam permasalahan hukum-hukum Syari’at amaliyah.  Menurutnya qiyas ini menempati urutan keempat dalam sumber-sumber syari’at hukum Islam setelah Al-Qur’an , hadis dan ijma’.

Artinya dalam menghukumi sesuatu seseorang harus mencari dari Al-Qur’an , hadis dan ijma’ dan qiyas, namun qiyas baru dapat di gunakan ketika hukum sudah tidak di temukan dalam Al-Qur’an , hadis dan Ijma’.

Mayoritas ulama’ menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an , hadis, fatwa dan perbuatan sahabat. Dalil-dalil Al-Qur’an  antara lain  yaitu pertama yaitu QS. An-Nisa’ : 59:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 59)

Menurut qaul shahih kata fa’tabiru di atas  mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Untuk konteks ayat di atas adalah mengqiyaskan Bani Nadhir dengan orang-orang kafir Ahlul kitab. Sama halnya ijma’, dalam qiyas ini penulis juga tidak panjang lebar membahasnya mengingat akan ada pembahasan tersendiri dalam babnya.

Itulah sumber hukum Islam yang di sepakati, semoga bermanfaat.

Refrensi:

1. Al-Banani, Abdur rahman Bin Jadalah. Hasyiyah Al-’Alamah Al-Banani. Libanon: Dar al-Kutub al-’Ilmiah, 2006.
2. Al-Zuhaili, Muhamad Musthofa. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqhi Al-Islami. Siria: Dar Al-Khair Lithaba’ah Wan Nasyr, 2006.
3. Khalaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fiqih Wa Khulashakh Tarikh Tasyri’. Mesir: Mathba’ah Al-Madani, 2010.
4. Yusuf, Abdullah Bin. Taisir Ilmu Ushul Fiqih. Bairut Libanun: Muassisah Ar-Rayan, 1997.
5. Agus Solahudin, Agus Suyadi. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia, 2008.

 

Example 300250

Responses (6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.