Example 728x250
Ushul Fiqih

Taklid : Definisi, Hukum, Dalil dan Contohnya

216
×

Taklid : Definisi, Hukum, Dalil dan Contohnya

Share this article
Example 468x60

Definisi Taklid

Kata taklid secara bahasa berasal dari kata qallada-yuqallidu-taqlidan, secara bahasa memiliki makna mengalungi, menghiasi, meniru, menyerahkan, dan mengikuti.

Taklid juga dapat didefinisikan sebagai mengikuti pendapat mujtahid tanpa mengetahui dalil-dalilnya. Seseorang yang bertaklid seolah-olah menggantungkan hukum  kepada seorang mujtahid yang di ikutinya.

Sedangkan menurut istilah, taklid menurut mayoritas ulama ushul fiqh (di antaranya Imam Al-Ghazali dan Syaukani), yaitu:

‌قَبُول ‌قولِ ‌الغير من غير حجة

Artinya: “Mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya”

Sederhananya taklid dapat di katakan sebagai seseorang mengikuti salah dari mujtahid atau madzhab tertentu, misalnya di masyarakat di Indonesia mengikut madzhab Syafi’i.

Dalam bermadzhab seseorang harus mengikuti salah-satu dari madzhab tertentu, tidak boleh mengikuti sebagiannya saja dan sebagian yang lain mengikuti madzhab lainnya, apa lagi  hanya mengambil pendapat-pendapat maddzhab yang mudah dan ringan saja, hal itu di larang karena dapat semena-semena.

Sedangkan dasar dalam taklid adalah firman Allah:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Hukum Taklid

Hukum taklid terdapat dua macam, yaitu taklid yang diperbolehkan dan taklid yang dilarang atau haram sebagaimana penjelasan berikut ini:

Pertama, Taklid yang diperbolehkan atau mubah, yaitu taklid bagi orang-orang yang belum sampai pada tingkatan sanggup mengkaji dalil dari hukum-hukum syari’at. Sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan al-Banna, taklid adalah sesuatu yang mubah dan diperbolehkan oleh syari’at, namun meski demikian, hal itu tidak berlaku bagi semua manusia.

Taklid hanya dibolehkan bagi setiap muslim yang belum sampai pada tingkatan Nazar atau tidak memiliki kemampuan untuk mengkaji dalil dari hukum-hukum syari’at, yaitu bagi orang yang tidak memiliki keahlian dalam mengkaji dalil-dalil hukum, atau kemampuan untuk menyimpulkan hukum dari Al-Quran dan hadis, serta tidak mengetahui ijma dan qiyas;

Kedua, Taklid yang dilarang atau haram, yaitu bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkatan mujtahid atau yang mampu  mengkaji hukum-hukum syari’at. Pada bagian yang kedua ini sangat sulit di temukan pada saat ini.

Yang paling mungkin pada saat ini seseorang hanya mencapai derajat mufti. Meski demikian ijtihad tetap di buka jika seseorang dapat memenuhi syarat-syarat ijtihad.

Baca juga: 

Kepada Siapa Harus Taklid

Dalam bertaklid seseorang harus taklid kepada seseorang memenuhi syarat-syarat mujtahid. Artinya seseorang yang hendak taklid harus selektif dalam memilih madzhabnya dan tidak boleh sembarangan asal memilih madzhab. Nahdatul ulama’ hanya memperbolehkan bertaklid kepada empat madzhab yaitu Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Maliki.

Sedangkan taklid yang tidak di perbolehkan yaitu:   Pertama Bertaklid kepada seseorang tanpa mengindahkan Al-Qur’an dan Hadis;  Kedua Bertaklid kepada seseorang yang tidak  memiliki kemampuan berijtihad; Ketiga, Taklid kepada orang yang mengaku bertaklid kepada imam mujtahid yang terkenal, sambil menyisipkan pendapatnya sendiri.

Refrensi:

1. Karimuddin, Muhammad Zuhdi. “Kedudukan Mazhab, Taklid Dan Ijtihad Dalam Islam.” Al-Qadha 6, no. 1 (2019): 55–65.
2. Misno. “Redefenisi Ijtihad Dan Taklid.” Al Mashlahah: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam, 2014, 389–402.
3. Nami, ’Iyad Bin. Ushul Fiqih. Riyadh: Al-Mamlakah Al-Arabiyah, 2005.
Example 300250

Responses (5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.